Tampilkan postingan dengan label original thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label original thought. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 September 2025

Reflecting modernity through a convex glass in a church

Last Sunday morning, while attending weekly mass at kodaira's local catholic church, i noticed something strange. I have been here for some times, but this time is different in my eyes. Several old TV monitor hug at the ceiling. Not a slim LCD TV as we know today, but it is really old bulky convex TV monitor. I don't even know if it is remote operated or not. At first I'm thinking whether the church can not afford to buy a new ones or something else. But using the modernity-sustainability perspective, i'm started to think that it might more than just a matter of affordable or not. 

I see some another perspective of modernity in this old TV. By the way, this old monitor is hung on the ceiling as a teleprompter for the people attending the mass, it tells on what page the reading or the song is. I see that this reflected what the true meaning of modernity. It shows that modernity should be like this. it works just the way it is. it operates just like what it is meant to be. the most important thing is, it is reliable. 

I didn't mention that those TV should to be perfect or never broken to be labeled as "sustainable", it just ready when needed, and troubleshoot-able. Modern tech now is very advance, you can watch tv, at the same time, you can do anything else through your TV, but it is fragile. If it is broken, there is a big chance that you have to dispose it. The other thing is, nowaday's TV are full of sophisticated feature, but do we need them all?. 

This idea of simple, functional modernity isn’t just found in that old church. Think about the old mobile phones from the early 2000s. Their batteries lasted for a week. You could drop them, and they would not break. Their purpose was clear: to make calls and send texts. They fulfilled a need perfectly. Now, compare that to the smartphone in your pocket. It is transformed into powerful computer that can do amazing things, but its battery barely lasts a day, its screen is fragile, and it is full of notifications that constantly demand our attention. For the essential need to communicate, which one is truly more advanced?

So, why have we chosen this path? The answer is not just about technology; it's about culture and economics. We live in a culture of consumerism, where companies spend billions of dollars on advertising to make us feel that our current possessions are outdated. The goal is to create a constant feeling of "want," even when our "needs" are already met. There is also a deeper, more deliberate reason: a concept called "planned obsolescence." Many modern products are intentionally designed to have a short lifespan. They are built to break after a few years, and repairs are often made so difficult or expensive that it’s easier to just buy a new one. This business model forces us to keep consuming. That old television in the church is a quiet protest against this idea. It has survived for decades precisely because it was built to last, not to be replaced.

To be clear, I am not saying we should never buy new tech-stuff. Any kind of technology or innovation emerges to solve a problem. But the real question is, which kind of problem? which kind of needs? This is where wisdom must take its place, allowing us to choose what we truly need from what we just want. In another perspective, those old TVs in the church might have to be replaced, and for a good reason. Safety, for example. A heavy, bulky TV could hurt someone if it falls. The point is not to reject change, but to be wise and think before we take action.

This way of thinking has a serious cost. All these discarded gadgets create mountains of "e-waste", a growing environmental crisis that pollutes our planet. The simple act of using an old device for as long as it works is a powerful act of sustainability. Furthermore, we have lost our sense of control. When that old TV breaks, a local technician might be able to open it and fix it. But a modern device is a sealed "black box." We are completely dependent on the corporation that made it, or we have to buy a new ones.

It all brings me back to that Sunday morning in Kodaira. Looking at that old TV wasn't about seeing the past. It was about seeing a different, wiser idea of the future. It suggests that we should redefine what it means to be modern. Maybe being truly modern is not about chasing the newest, shiniest object. Maybe it is about the wisdom to choose things that are reliable, repairable, and truly serve our needs. Perhaps true modernity is not loud and complicated. Perhaps it is quiet, humble, and simply does its job.

In the end, that old television teaches a final, deep lesson. Our life with technology is not about the next upgrade. It is about the small choices that decide our future. The idea of sustainability can seems so  complicated. But the final result is simple: we will be sustained, or we will perished. The idea of a simple modernity is the answer. We choose to be sustained not in big world meetings, but in the quiet decisions we make every single day.

To tell you the truth, this whole piece is part of a fight I'm having with myself: should I really buy a new Nintendo Switch? It might seem like a small thing. But it is from these small, personal struggles that we choose the kind of future we want.

Selasa, 02 September 2025

Suara-Suara di Ruang Sepi

 Menjalani kehidupan seorang diri adalah sebuah hal berat bagi sebagian orang, salah satunya bagi saya. Setelah sebelumnya menjalani kehidupan dengan tempo yang sangat cepat, kemudian dihadapkan pada sebuah ritme kehidupan yang bergerak lambat membuat saya harus menghadapi rasa kesepian yang luar biasa mengganggu. Kesepian ini seperti memiliki kebisingannya sendiri yang sangat memekakkan telinga saya. Dulu saya pernah berpikir, sepertinya akan sangat nyaman ketika kita bisa melepas keterburu-buruan, menjalani hidup dalam ketenangan dan keheningan. Ternyata itu salah. pada momen-momen tertentu saya merasa "ini mau ngapain lagi ya?". Saya seringkali kehabisan ide untuk mengisi Waktu. Keheningan yang awalnya saya kira menjadi sebuah kondisi yang rileks, menenangkan ternyata bisa sangat bising dan mengganggu. Awalnya saya berpikir bahwa di dalam keheningan, saya dapat lebih focus mengerjakan hal-hal yang penting dengan tenang. namun ternyata di dalam keheningan tersebut, saya juga tidak dapat melakukan tugas-tugas yang saya kira dapat diselesaikan dengan baik.

Rasa kesepian mungkin salah satu yang membawa kabur inspirasi. Apa yang saya pikir dapat tuntas diselesaikan, ternyata pun tidak dapat saya mulai. Seluruh energi sepertinya terfokus pada upaya agar rasa kesepian tidak muncul dan menyerang secara brutal. Mungkin ini mengapa sejarah sering menunjukkan bahwa pengasingan merupakan salah satu metode untuk menghukum seseorang. Sejarah mungkin ingin menunjukkan bahwa hukuman ini relatif lebih aman dan tidak menyulut permasalahan yang lebih besar. Mereka ingin menghukum secara psikis, memaksa si terbuang untuk melunak. Terbayang bagaimana Bung Karno, Bung Hata, Sjahrir, Pangeran Diponegoro, Pram dan tokoh lain diasingkan. Bukan untuk mematikan secara fisik, namun mencabut dari segala inspirasi dan lingkungan yang menjadi domain mereka. Bagaimana mereka bertahan saat itu? Di sisi lain, pada saat pengasingan, Sebagian tokoh justru menghasilkan karya-karya terbaiknya. Rahasia ini yang harus saya pecahkan.

Sepertinya saya harus menerima kenyataan bahwa untuk menjadi produktif dalam kondisi saat ini tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. Saya perlu berdamai terlebih dulu dengan keheningan yang sangat berisik ini. Salah satunya adalah dengan mendengarkan suara. Tentu saja suara yang saya tahu dari mana sumbernya. Saya tidak ingin menambah tekanan batin dengan tiba-tiba mendengar suara yang tidak jelas dari alam mana sumbernya. Dihadapkan pada pilihan yang sangat terbatas, hiburan saya adalah mendengarkan radio internet atau mendengarkan podcast. Selain itu, terkadang saya memilih untuk mendengarkan video musik secara online. Menyalakan playlist video secara random dan membiarkannya menyala terus menerus. Meskipun beberapa kali konten yang masuk bukan tipe saya, suara-suara itu tetap saya biarkan berbunyi. Ketika saya sedang fokus mendengarkan, terkadang saya secara selektif memilih konten suara yang disodorkan. Namun di lain Waktu saya hanya membiarkan lagu-lagu yang ditawarkan diputar begitu saja. Mendengarkan bahwa ada suara lain di ruangan membuat saya sedikit merasa tidak kesepian. Suara-suara ini memberikan ilusi bahwa saya tidak sedang sendiri.

Di satu titik saya merasa mungkin perilaku ini memiliki faktor genetis di dalamnya. Mungkin ini yang dirasakan oleh ibu saya atau kakek saya. Mereka juga memiliki kebiasaan menyalakan suatu alat yang mengeluarkan suara meskipun mereka tidak benar-benar mendengarkan bunyi apa yang keluar. Setelah ayah wafat, ibu saya tinggal sendiri di rumahnya setelah anak-anaknya dewasa dan berkeluarga. TV di rumah selalu menyala meskipun ibu saya tidak sedang berada di ruangan itu. Seringkali saya melihat bahwa TV masih menyala saat ibu sudah tertidur di ruang tengah. Hal yang sama juga dilakukan oleh kakek saya, mertua ibu. Setelah meninggalnya nenek, saya sering mendengar radio di kamar tidur kakek menyala memperdengarkan suara lakon wayang. Saat itu saya mendengar suara dengkuran lembut dari kamar beliau. Sudah pasti beliau sudah tertidur lelap, pikir saya kakek pasti lupa mematikan radio sebelum tidur. Ternyata kebiasaan ini dapat dilihat sebagai suatu upaya bertahan hidup. Baik itu suara dari gawai modern, suara televisi yang tak pernah mati, maupun lakon wayang dari radio tua, semuanya adalah rekayasa suasana yang sama. Merekayasa suasana untuk memecah kesunyian yang memunculkan perasaan tidak sendiri hanya sekedar menjaga pikiran tidak semakin kalut dan untuk membisikkan pada diri sendiri bahwa di tengah semesta yang mahaluas ini, kita tidak benar-benar sendirian.

Dulu saya merasa keheningan adalah sebuah privilege. Ternyata yang saya cari bukanlah hening, melainkan kendali atas kebisingan di kepala saya. Kebisingan dari rasa sepi itu kini saya lawan dengan kebisingan lain yang saya pilih—suara penyiar radio, perbincangan di podcast, atau alunan musik dari gawai. Inilah rahasia yang mungkin juga ditemukan oleh Bung Karno di pengasingannya atau oleh kakek di kamarnya yang sepi. Mungkin perjuangan untuk tetap waras memang sesederhana itu: mengganti satu suara yang menyiksa dengan suara lain yang menyembuhkan. Mungkin ini bukanlah tentang faktor genetis, melainkan tentang kebutuhan manusiawi yang universal. Kebutuhan untuk mendengar bukti bahwa ada kehidupan lain di sekitar kita. Saya, ibu, dan kakek, kami semua hanyalah pewaris dari sebuah cara bertahan yang sama. Malam ini saat alunan musik dari laptop mengisi ruang, saya merasa menjadi bagian dari sebuah tradisi sunyi. Sebuah tradisi merekayasa suara untuk menjaga kewarasan, untuk membisikkan pada diri sendiri bahwa di ujung malam yang panjang, pasti akan datang pagi.

Jumat, 30 Mei 2025

Khong Guan: Biskuit Lebaran Tanpa Menunggu Lebaran

Hari jumat kemarin saya mencoba ikut acara komunitas baru. Bukannnn, bukan komunitas rahasia yang membahas teori konspirasi bahwa bumi berbentuk segi tiga sama sisi. Bukan juga komunitas intelektual yang rutin mendiskusikan kemungkinan cabai dengan sebagai alternatif pemanis pengganti tebu. Lebih jelasnya ini adalah komunitas menggambar. Iya, aktivitas mungkin hanya menarik garis di kertas, membuat bentuk kurva dengan pensil, menghapus goresan pensil dengan penghapus, mengoles-oles warna dengan kuas. Mungkin justru sebagian besar kegiatan di aktivitas ini adalah memandang dengan tatapan kosong ke segala penjuru untuk memikirkan "abis ini kuasnya belok ke kiri apa kanan ya". 

Mungkin memang nasib mujur peserta baru, tiba-tiba menang doorprize di acara itu. Paulo Coelho dalam The Alchemist menyebut fenomena kemujuran ini sebagai "beginner's luck". Mungkin ini bagian dari mekanisme semesta untuk memberikan dukungan moral bagi seseorang yang menekuni hal baru agar sedikit lebih tekun sebelum benar-benar menyesal terjerumus lebih dalam. Ibaratnya, beginner's luck ini adalah semacam teaser, sayangnya bukan paket berlangganan gratis selamanya. Menariknya, doorprize yang diberikan adalah assorted biskuit Khong Guan (KG), dalam kemasan sachet 300 gram. Bukan hanya soal menang hadiah, ini seperti kode dari alam semesta , “Selamat datang di dunia baru sambil menikmati biskuit legenda!”. Dari situ terpikir bahwa biskuit ini bukan cuma camilan, tapi juga cerita besar tentang brand yang menjadi raja di hati orang Indonesia, apalagi saat Lebaran.

Kita semua sangat paham bahwa biskuit KG sudah memiliki dominasinya sendiri di dunia per-biskuit-an. Posisinya mungkin bukan sebagai biskuit pertama yang menjadi referensi orang ketika ingin kudapan secara random, bukan pula sebagai snack yang digilai anak-anak pada umumnya. Saya jarang - atau - tidak pernah melihat di supermarket ada anak yang nangis tantrum minta dibelikan biskuit ini. Tapi brand ini menjadi top of mind saat lebaran. Biskuit KG mungkin sudah menjadi standar representatif apakah sebuah rumah sudah siap merayakan lebaran atau belum. Disini kita melihat bahwa brand ini kuat secara holistik. bukan hanya produknya yang punya market perception bagus, bahkan packagingnya urun menyumbang engagement luar biasa dengan konsumen. Sepertinya belum ada brand selain KG yang visualnya viral jadi meme populer, dan jadi bahan komedi. Satu lagi, mungkin hanya biskuit ini yang membuat kemasan dengan bahan berstandar bodi mobil atau pesawat (anda pasti pernah mendengar istilah "pesawat kaleng", atau "mobil berbodi kaleng"). Bayangkan di universe lain, elon musk akan menelepon ke Indonesia sebelum memproduksi pesawat luar angkasanya "Bro, ready stock kaleng Khong Guan berapa?"

Dengan kedigdayaan sebesar itu, KG bisa saja tinggal duduk di singgasana menikmati segala kemasyurannya. Mau apa lagi, market share sudah ada, awareness sudah tinggi, pola demand sudah terbentuk, engagement sudah di puncak-puncaknya. Tapi meskipun sudah duduk manis di singgasana, KG tahu biskuit kaleng mereka mulai terasa mahal buat sebagian orang. Inflasi tahunan, ongkos produksi naik, daya beli masyarakat melempem—klasik. Mereka tidak mau pasar setia kabur bukan karena mereka sudah tidak menginginkan produknya. Dari situ lahirlah inovasi cerdas: biskuit KG dalam kemasan plastik 300 gram! Bukan spin-off biskuit rasa matcha unicorn atau rasa spicy marshmellow, karena prinsip mereka jelas: “Kalau nggak rusak, buat apa diperbaiki?”. Dengan kondisi perekonomian seruwet ini, mungkin orang akan membeli biskuit kaleng hanya menjelang momen lebaran. Tentu saja hal ini berat bagi perusahaan, cashflow tidak merata, revenue tidak stabil. "Bagaimana membuat orang bisa lebih mudah membeli produk ini?"adalah pertanyaan utama yang ingin dijawab dengan hadirnya kemasan  plastik 300 gram. 

Melalui kemasan plastik ini Khong Guan ingin menegaskan, “Nggak perlu nunggu lebaran buat beli biskuit lebaran!”. Biskuit ini umumnya dikenal sebagai occasional snack, yaitu kudapan yang dikonsumsi pada kesempatan tertentu, contohnya, ya tadi, lebaran. Dengan kemasan 300 gram yang secara ukuran tidak terlalu kecil, pada saat yang sama juga tidak terlalu besar, Khong Guan ingin masuk ke ranah "casual snack", yaitu snack yang bisa dinikmati kapan saja. Kemasan ini punya ukuran yang sangat pas. Bukan sekotak kecil yang membuat konsumen merasa "yah.. udah abis aja, baru juga pemanasan". Ukuran ini pun tidak terlalu besar sampai pembeli harus berpikir menyiapkan saldo tertentu dan menunda beberapa pengeluaran darurat hanya untuk membelinya. Ukuran 300 gram ini seperti membuat statement yang tegas “Aku akan cukup buat nemenin kamu nonton drakor semaleman tanpa bikin kamu ngenes liat sisa duit di dompet. Aku juga bisa nemenin kamu ngerjain tugas tanpa merasa dikerjain.” Ini adalah ukuran yang ramah dompet, ramah perut, dan ramah kaleng lawas yang sudah nunggu bertahun-tahun buat diisi ulang.

Kenapa harus  plastik lembaran, bukan kemasan  plastik box? Disini terlihat Khong Guan sekali lagi menggunakan kartu as-nya secara cerdik. Kita tahu seberapa awet kemasan kaleng biskuit ini, seberapa monumental engagement yang dihasilkannya, dan mereka pasti paham se-ngirit apa masyarakat kita. Mereka paham bahwa mungkin 3 dari 5 rumah tangga di Indonesia pernah membeli produk Biskuit KG kemasan kaleng (mungkin beli tahun lalu, tiga tahun lalu, atau mungkin pernah beli saat periode pemerintahan sebelumnya, dan bisa jadi 70% diantara pembeli itu masih menyimpan kaleng lawas-nya. Sepertinya premis yang ingin diangkat melalui produk kemasan plastik ini adalah "daripada diisi rengginang, mending diisi biskuit lagi?!?!" Khong Guan konon berarti  "kaleng kosong". Strategi ini seperti muncul dari hasil permenungan filosofis mendalam “Kembali ke esensi!”. Kemasan plastik ini hadir untuk mengisi kembali kaleng kosong itu dengan biskuit asli, bukan sekedar harapan atau camilan hasil malak tetangga. Jadi, setiap membuka kemasan plastik itu, Anda tidak hanya menikmati biskuit, tetapi juga merayakan misi mulia melanjutkan warisan budaya: mengisi kaleng kosong dengan kejayaan Khong Guan, bukan hanya rengginang atau kenangan Lebaran yang makin pudar.  

Selasa, 31 Agustus 2021

Opo Moral iku Mural?

Beberapa mural yang muncul bernada kritik kepada pemerintah dihapus sepihak oleh aparat.
Pertama, mural adalah bentuk ekspresi, biasanya di ruang publik, karena mungkin menurut pembuatnya mewakili pesan kolektif sehingga harus diekspresikan dalam ruang publik, atau minimal ruang terbuka (yang belum tentu milik umum) yang dapat diakses publik. Jika pesan yang ingin disampaikan hanya ekspresi individu, mungkin nulisnya bukan di ruang publik, tapi di medium privat yang sangat rahasia dan diawali dengan kalimat pembuka "dear diary,". Kembali lagi, bahwa mural itu secara substansial dalah bentuk ekspresi.. tentunya ekspresi yang disampaikan oleh orang yang memiliki kapasitas untuk membuat mural... Sama seperti ekspresi yang dibuat oleh penulis berbentuk artikel, Atau ekspresi yang disampaikan oleh chef mungkin akan berbentuk makanan, atau ekspresi yang disampaikan oleh ormas berupa.. demonstrasi, mungkin.

Mari kita pisahkan karya mural dengan aksi vandal. Mural yang saya bahas disini adalah karya yang mengandung unsur pesan kolektif dan disampaikan dengan tetap memperhatikan kaidah ilustrasi visual.  

Yang namanya ekspresi dari pemikiran atau ide, tuntutan untuk menghadirkan sebuah narasi yang obyektif sepertinya tidak relevan. Kalau harus cover both side- sepertinya itu tugas wartawan ya, bukan seniman. Karena di dalam mural ada unsur individu, yang mana masing-masing individu punya perspektif yang unik dengan sudut pandang tertentu yang belum tentu didukung oleh informasi yang lengkap atau utuh.  Memang manusia memang punya dua mata, tapi seluruhnya menghadap ke depan, dan itulah yang membuat setiap manusia memiliki sudut pandang masing-masing yang unik. Sudut pandang itulah yang pada akhirnya diwujudkan dalam bentuk olahan warna atau bentuk dua dimensi dengan komposisi tertentu untuk menarik perhatian orang lain.

Kenapa mural seringkali dibuat dengan ukuran besar, dengan warna dan bentuk-bentuk tertentu? ya karena dia sedang dalam pertarungan dalam ruang publik untuk memenangkan perhatian orang yang berada di sekitarnya. Mural harus dibuat eye catching untuk dapat menarik perhatian orang dari baliho politikus di sekitarnya, atau iklan HP yang bertebaran di pinggir jalan, atau iklan stensilan sedot WC atau gali sumur yang secara ngasal ditempel di tiang listrik. Sebetulnya sebuah mural hanya ingin para pembacanya berpikir atau merasakan "wah iyo, bener iki", atau "Biajinguk, tenanan iki asli bener", "si kae tenan oq, iso dadi pemimpin tenanan ora?". Di sisi lain, pesan yang disampaikan justru menunjukkan alternatif sudut pandang untuk menantang logika para pembacanya. Ini yang keren. Eh ternyata yang datang bukannya apresiasi, tapi malah aparat membawa cat warna netral. 

Penghapusan mural, apalagi jika ada muatan sensitif didalamnya oleh aparat tentu berbeda konteksnya dengan penghapusan mural oleh si pemilik properti yang terganggu oleh unsur visual. Ketika aparat membersihkan mural yang dianggap meresahkan, terlihat seperti ada upaya pembatasan atau pembungkaman gagasan yang timbul di tengah masyarakat, kebebasan mengeluarkan pendapat yang konon dilindungi undang-undang. Di ruang publik, siapakah yang berwenang melakukan penghakiman atas sebuah gagasan? ya seharusnya publik yang menjadi juri disini. Apakah aparat memiliki legitimasi untuk mewakili publik?. Ketika pesan yang disampaikan mengajak orang untuk melakukan kekerasan atau secara eksplisit menghina entitas tertentu, disitulah harusnya mekanisme hukum yang bekerja. Bukan dengan penghapusan sepihak oleh orang yang merasa paling berkuasa menentukan selera publik. Seharusnya mural dilawan dengan mural, itu baru pertarungan yang sebenarnya.. sama seperti pertarungan narasi-narasi di kanal sosial media atau media pers. 

Sebagaimana ide atau gagasan lain, seharusnya ide tidak dihakimi sepihak, tetapi ditantang untuk dibuktikan kebenarannya.. nah seharusnya mural-mural yang sempat heboh lalu dibersihkan oleh aparat beberapa hari ini diperlakukan. Pernah beberapa kali  terlihat di media sosial (sayangnya di luar negeri, belum di negeri kita) ada  sekelompok seniman mural yang meng-cover (kalau cover diartikan dengan "sampul" di bahasa indonesia kok sepertinya aneh ya, meskipun secara substansi maknanya sama, "menutupi") mural yang bernada kebencian terhadap etnis, atau ajakan kekerasan dengan ilustrasi lain yang membawa pesan positif. Yang namanya seni, apalagi di ranah visual, bagus tidaknya seni adalah urusan masing-masing penikmatnya.. begitu pula dengan mural. Orang bisa suka dan bisa membenci sebuah karya visual tergantung dengan seleranya, namun dalam konteks mural, orang bisa membenci gambarnya, tapi bisa juga pada saat yang sama menyukai gagasan yang disajikan.

Karena mural membawa dua muatan, yaitu unsur seni dan unsur pesan, mural yang baik menurut saya adalah ketika dua hal ini dapat dikawinkan yaitu dengan tetap memperhatikan estetika seni dan membawa pesan yang positif bagi kemanusiaan. halah. Disini saya tidak menyebutkan unsur kesopanan. Pesan yang positif itu konten, sedangkan sopan itu adalah cara. Kalau mural harus dibuat dengan sopan, niscaya kita tidak akan pernah melihat mural di ruang publik. Ngurus izin pembangunan rumah ibadah aja ribet, apalagi mau ngurus izin membuat mural yang isinya mengkritik orang yang punya kewenangan mengeluarkan izin.
Moral of the story.. mengkritik itu boleh, menghina itu jangan, dan tolong dicamkan, ngemural kuwi yo ngemoral. ora waton corat-coret neng tembok-e tanggamu. Yang tersindir dengan mural pun, jangan langsung sensi.. dipikir dulu, mungkin pesan yang disampaikan ada benarnya.

Minggu, 22 Agustus 2021

Artefak Peradaban itu bernama "Short Message Service"

Salah satu rantai ikatan yang menjadi benang merah evolusi gawai berupa handphone yang masih ada dari zaman nokia/motorola lipat antena ditarik sampai seri terbarunya aipon atau samsung adalah fitur short message system, atau lebih banyak disebut sebagai "messaging". Secanggih apapun sistem operasi atau hardware yang dimuat. Minimal, sebuah gawai dapat dikatakan sebagai "handphone" atau "smartphone", wajib punya fitur "call" dan "messaging". dua fitur ini adalah koentji! 

Dulu, pengguna handphone dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu.. "orang yang suka nelpon", dan "orang yang suka SMS". golongan pertama biasanya diisi oleh kaum bapak-bapak atau ibu-ibu mapan yang memiliki penghasilan memadai untuk dapat membeli pulsa kapanpun dibutuhkan. Golongan kedua, sebagian besar diisi anak sekolahan, mahasiswa atau orang kantoran yang beli pulsa kalau kepepet habisnya masa aktif kartu prabayar. Pelajaran yang patut kita petik dari adanya dua golongan ini adalah.. mereka tidak saling merecoki satu persatu. Tidak seperti kebanyakan kita sekarang. Golongan Pemuja Bubur diaduk selalu mencari kesalahan kaum pencinta bubur tidak diaduk, begitu pula sebaliknya. Adanya kaum "suka nelpon" dan "suka SMS" merupakan representasi nyata dari Bhinneka Tunggal Ika. Bagaimana tidak, si penyuka nelpon masih bisa berkomunikasi dengan si penyuka SMS, begitu pula si "penyuka SMS" masih bisa mengirimkan berita untuk minta ditelepon kepada si "penyuka nelepon". nyambung dua-duanya. Kan harusnya gitu kan ya! 

Ada sebuah masa dimana mampu mengetik papan tuts HP dengan cepat tanpa melihat tombol adalah sebuah kebanggan tersendiri, juga kemampuan meringkas kata tanpa mengurangi esensi pesan dapat memberikan selisih saldo pulsa yang sangat signifikan. Namun disisi lain, ada masanya orang bisa menjadi sangat labil dalam menggunakan huruf kapital dan angka dalam sebuah kalimat demi mengejar predikat "imut", "lucu", dan sebagainya, harus diakui sebagai sisi kelam dari adanya teknologi bernama Short message Service. Sebuah embrio awal terhadap golongan yang saat ini kita sebut sebagai "alay".

Seperti halnya insting untuk bertahan hidup, keterbatasan fitur dan biaya layanan SMS justru memunculkan keratifitas luar biasa para penggunanya. Dulu, umumnya saldo pulsa 5000 perak hanya bisa dipakai untuk mengirimkan 14 SMS (dengan asumsi tarif normal SMS adalah 350 perak per pengiriman). Bayangkan bagaimana sulitnya orang-orang di masa itu harus sangat jeli memilih penggunaan kata atau bagaimana orang-orang berkreasi menciptakan singkatan-singkatan kata yang mungkin hanya dirinya yang paham - hanya untuk menghemat satu atau dua pengiriman SMS. Sebuah biaya yang sangat mahal bagi orang-orang yang sedang PDKT lintas operator... Sebuah pekerjaan rumah yang maha berat bagi kementerian telekomunikasi pada masa itu.

Pada masanya, trafik SMS pernah menjadi salahsatu tolak ukur perhitungan kesuksesan operator.. atau minimal menjadi alasan orang menilai kekuatan jaringan operator telekomunikasi. Jika anda pernah mengalami gangguan pengiriman SMS pada saat libur lebaran, artinya anda tahu yang saya maksud. Pada era jayanya SMS, orang berlomba berkreasi untuk membuat sms terlucu, terunik untuk dapat dikirimkan ke sanak saudara-handai taulan-gebetan-pacar saat lebaran. Hangat sekali hubungan antar manusia saat itu, dimana kita masih memiliki keinginan untuk sedikit menyenangkan orang lain melalui pesan yang kita kirimkan.. meskipun bukan ide orisinil kita. ya kan?!. Enaknya berkirim pesan melalui SMS adalah, mau copy paste atau forward SMS, tidak ketahuan sodara-sodara. Perlu diteliti lebih lanjut, apakah pesan-pesan lucu di masa perpesanan SMS itulah yang saat ini bermetamorfosa menjadi joke bapack-bapack di grup WA komplek.

Kelebihan masa SMS adalah... HOAX relatif sulit untuk tersebar.. lha gimana, sekali kirim 350 perak bosss! boro boro mau ngirim hoax.. mau nanyain pacar sudah makan apa belom, sudah tidur apa belom saja harus bermodal, mau ngabarin ke orang tua kalo hari ini pulang malam aja harus keluar pulsa. Paling yang agak rame saat itu adalah SMS berantai! duh.. kalau gak melanjutkan SMS berantai, kena kutuk jadi batu ulegan sambel.. kalau melanjutkan SMS berantai kok ya nyedot pulsa. Anda sempat mengalami masa-masa ini? Saat itu, ada kaitan yang erat antara emosi dengan pesan yang dikirimkan melalui SMS.. Ada masanya ketika menunggu sms balasan dari gebetan seperti menunggu cairnya Tunjangan Hari Raya.. atau menunggu datangnya barang yang dibeli dari olshop. Ada juga yang sampai ngambek putus asa ketika 125 pesan SMS-nya tidak dibalas sama sekali oleh si gebetan. 

Sebetulnya dulu sudah ada alternatif pengiriman pesan yang lebih murah dari SMS, seperti MiRC atau Yahoo Messenger. tapi mereka bukanlah lawan yang sepadan bagi SMS sampai mulai maraknya smartphone. Saat itu menenteng-nenteng komputer jangkrik kesana kemari sepertinya agak kurang.. apa ya.. handy mungkin ya.. 

Saking Hype-nya SMS di tahun 2000-an, sampai ada lagu dangdut bertema SMS, dan lagunya pun ikut booming! mungkin karena sangat relatable dengan kondisi masyarakat ya.. bahwasanya perpesanan melalui SMS pun sudah menjadi bagian tidak terpisahkan bagi umat manusia..seperti makan tidur beol, mungkin. Cari deh, sepertinya du yutup masih ada videonya. Mungkin lagu ini adalah tonggak awal munculnya fenomena dangdutisasi kejadian yang viral secara digital yang semakin ramai akhir-akhir ini.

Apa di gawai anda masih terinstall aplikasi messaging? coba sesekali tengoklah ada apa saja di dalamnya, apakah masih ada gairah yang sama seperti dulu? sejak beberapa tahun ini, isi inbox aplikasi messaging di HP saya bisa dipilah menjadi beberapa kategori, antara lain:

1. Penawaran iklan kredit tanpa agunan, yang mana saya sama sekali tidak tertarik. Coba deh kalau yang ditawarkan adalah kredit tanpa angsuran. 

2. Pesan penipuan menang undian. yaelah bung.. saya sudah sangat lama sekali tidak mengirimkan kartu pos atau surat berisi potongan label botol minuman untuk mengikuti undian, mana mungkin saya menang undian.

3. Penawaran deposit judi onlen. Astagaaaa.. dosa ini sih! mereka belum pernah kena selepet senar gitarnya Bang Haji Oma apa yak?!

4. Penawaran program dari operator telekomunikasi. Ini sama sekali gak berguna untuk saya, tapi ya gimana, malang tidak dapat diraih, untung tidak dapat dihindari.

5. Pemberitahuan jatuh tempo kredit dari bank.. Yah pasrah lah ya tiap bulan dikirimi sms begini dari pihak yang sudah membantu secara finansial. SMS itu sebenarnya adalah wujud bahwa mereka sebenarnya sangat perhatian, terhadap uangnya - yang kita pinjam - agar jangan terlambat dikembalikan!

6. Pesan penipuan yang isinya menyuruh saya untuk segera mentransfer ke nomor rekening tertentu.. yang kalau dilaporkan ke OJK pun mereka akan sangat sulit diusut.

7. Pesan layanan masyarakat dari instansi pemerintah.. SIAP LAKSANAKAN! MAJU JALAN!

Mempertahankan SMS dari perkembangan teknologi perpesanan adalah hal yang sangat sulit.. sama sulitnya seperti perjuangan abang-abang ojek pangkalan yang harus berhadapan dengan ojek online. Kalaupun harus secara rutin menggunakan layanan SMS, harus ada kondisi spesial tertentu.. misalkan, belum isi paket data, atau anda sedang berada di lokasi tertentu yang tidak ada jangkauan data. Pastinya SMS tidak akan dapat memberikan kecepatan dan kemudahan yang sama jika dibandingkan dengan aplikasi yang ada sekarang. Masa dimana orang bisa mengobrol melalui banyak instrumen. bahkan orang bisa saling berkirim pesan tanpa melalui aplikasi spesifik perpesanan. Edannya lagi, Sekarang di aplikasi ojek onlen pun orang bisa menjalin pertemanan dan mengobrol secara gayeng dan guyub. Biarlah layanan SMS menjadi penanda penting perkembangan peradaban manusia. dan mari beranjak tanpa meninggalkan esensi dari pesan itu sendiri.. "menyampaikan rasa"

Kamis, 01 April 2021

Polisi Tidur, manfaat atau mudharat?

 Setiap sore ketika harus menjemput Luna dari rumah guru pengasuhnya, saya selalu harus melewati satu gang di pemukiman yang harus dilalui dengan penuh penyiksaan. Jalan itu kurang lebih hanya sepanjang 50 meter, tapi disitu terpasang empat buah polisi tidur dengan ukuran yang lebih pantas disebut "tanggul penahan banjir". Sebuah penyianyiaan oli shockbreaker motor yang sangat unfaedah (menurut saya-sebagai korban). Saya penasaran, kira-kira kejadian apa yang pernah terjadi di sana sampai warga setempat dengan semangatnya memasang tanggul banjir di tengah jalan. Memang di sana banyak terdapat anak kecil berlalu-lalang di jalan, tapi kalau dipikir-pikir apakah anak-anak itu juga tidak terganggu dengan adanya si polisi tidur tadi? 

Melihat si polisi tidur tadi, saya harus mengakui bahwa penegakan hukum semacam ini lah yang seharusnya dirindukan oleh masyarakat kita sebagaimana janji politik usang yang terus menerus digaungkan saat kampanye. Si polisi tidur ini dapat dipastikan berlaku tegas ke segala arah, tajam ke atas, tajam kebawah, juga tajam ke kanan-kiri. Dia tidak membedakan mana suzuki carry, mana ferrari. Semakin ceper kendaraan anda, semakin menyakitkan pula akibat yang diterima. Tapi apa ya kita siap menghadapi hukum yang seperti ini?

Di satu sisi, polisi tidur dipasang oleh warga setempat mengantisipasi agar orang tidak ngebut ketika melewati jalur tersebut. Benar tujuannya apabila polisi tidur dijadikan sarana untuk menghukum si pengebut tidak bertanggungjawab. Benar juga bila tujuannya adalah untuk mengantisipasi agar orang tidak ugal-ugalan di jalan lingkungan. Tapi di sisi lain, si polisi tidur itu juga menghukum orang yang tidak bersalah, ya contohnya saya ini.. Jangankan ngebut, narik tuas gas secara agresif pun saya urungkan jika tidak terpaksa. Bukannya karena saya adalah orang tertib berlalu lintas, tapi saya tipe orang yang sadar risiko. Risiko yang nyata di depan mata adalah ban motor saya sudah lumayan tipis. Ora sumbut babar blas lah. 

Balik ke hukuman tadi, saya sangat sepakat bahwa harus ada aturan yang dapat memastikan keamanan dan kenyamanan berlalu lintas, tapi hukuman juga harus memperhatikan "pelanggaran"nya. Disini, di polisi tidur, nampak sebuah penegakan hukum yang justru menghukum semua orang tanpa melihat apakah orang tersebut melakukan pelanggaran atau tidak. mau pelan, mau kenceng atau bahkan dengan kecepatan cahaya, kendaraan yang melalui si polisi tidur wajib "ngglodak". Bedanya adalah sejauh mana anda harus terlempar dari kendaraan. 

Jika dilihat polanya, polisi tidur yang dibangun dapat menunjukkan kondisi lingkungan sekitarnya. Contoh, di permukiman elit, mungkin polisi tidur akan dibuat dari bahan paving, aspal dengan besi bordes di pinggirnya serta dicat sebagai penanda. di permukiman yang lebih "umum", mungkin anda akan melihat polisi tidur dibuat dari campuran semen dan bata atau besi beton dengan ukuran tidak terlalu besar tapi cukup tinggi untuk mengganggu kenyamanan perjalanan anda. di tempat lain mungkin polisi tidur akan dibuat dari tali tambang yang dipaku ke badan jalan. Di tempat lain juga anda akan mendapati polisi tidur terbuat dari selongsong kabel fiber optik atau bahkan balok kayu. Artinya adalah, hukum dibentuk sesuai dengan sudut pandang dan kemampuan si pembuatnya. Adaptif. Begitu pula sebaliknya, hal-hal yang berlaku di satu tempat, belum tentu dapat diterapkan di komunitas lain makplek makplek. Polisi tidur di jalan yang sering dilalui truk, strukturnya pasti akan berbeda dengan polisi tidur di jalan komplek yang paling banter hanya dilalui motor roda tiga pengangkut galon. Meskipun tujuannya sama, kekuatan dan keteguhan hukum itu harus berbeda.

Disinilah terlihat bahwa penegakan hukum harus dilakukan secara adil. Kalau hukum tersebut tidak dapat menunjukkan keadilan dengan benar, maka di satu titik justru akan memantik reaksi pihak tertentu untuk mendekonstruksi hukum itu, atau kasarnya, melawan. atau, di sisi lain kita bisa melihat bahwa hukum itu selalu bisa di"sesuaikan" oleh pihak manapun-apapun itu motivasinya. contohnya sangat jelas terlihat ketika ada sebuah polisi tidur yang "dimodifikasi" dengan adanya celah-celah tipis di beberapa titik untuk mengakomodasi para pengguna jalan yang sedari awal tidak ada niatan buruk untuk ngebut. biasanya, kalau celah itu rapi, bisa jadi celah di polisi tidur dibuat atas inisiatif atau kesepakatan seluruh warga setempat yang (mungkin telah menerima pencerahan bahwa) menyadari bahwa selain menyusahkan orang lain, polisi tidur itu juga menyusahkan diri mereka sendiri. Lain ceritanya kalau celah di polisi tidur terkesan kasar, cacat bentuknya, ada kesan dipaksakan. Biasanya itu adalah bentuk protes pengguna jalan yang merasa dirugikan secara sepihak. Nah disini terlihat malah muncul konflik antara si polisi tidur dengan pihak-pihak yang sebenarnya bukan obyek yang menjadi munculnya si polisi tidur. Tentunya ini kontra-produktif dengan tujuan dibentuknya hukum itu di awal. Yang mana seharusnya hukum ini berhadapan dengan para pelanggarnya, namun justru dia bermasalah dengan orang yang mungkin tidak memiliki niat untuk melanggar si hukum tadi.

Sebenarnya hukum (baca:polisi tidur) itu urusan niat, baik niat si pembuatnya, atau niat orang-orang yang melanggarnya. Hukum adalah wujud upaya manusia beradab untuk melindungi dirinya atau wilayahnya, namun perlu diperhatikan aspek keadilan dibalik hukum tersebut. Dan harus ada upaya untuk memastikan bahwa penegakan hukum tidak mengganggu keadilan. Wes ngono tok. suwun

Rabu, 24 Februari 2021

Sambal sebagai Penanda Peradaban


Sejak bangsa kita berhasil membudidayakan tanaman cabai, sejak saat itulah peradaban terutama perilaku makan menjadi seperti yang kita jalani sekarang. Kalau dirunut ke belakang, cabai bukanlah tanaman asli Indonesia, Cabai masuk ke Indonesia kurang lebih pada abad 15 atau 16, dibawa oleh bangsa Portugis. Sebelum itu kita tidak mengenal cabai seperti yang kita kenal sekarang. Memang sambal hanya berupa komplementer dalam piring hidangan umat manusia, utamanya orang Indonesia, kita-kita ini. Posisinya dalam diagram asupan nutrisi seimbang pun tidak disebutkan secara jelas dan tegas, sebagaimana tomat dan terong yang masih ambigu, harusnya disebut buah atau sayur. Namun ada atau tidaknya sambal dalam opsi pilihan menu akan sangat berdampak pada kenikmatan makanan yang sedang kita santap. setuju? 

Frasa "Urip nelongso ora opo opo, isih iso mangan sego karo sambel" sering saya dengar ketika seseorang sedang kepepet secara finansial sehingga hanya tinggal bisa makan nasi dan sambal saja. Namun ternyata jika frasa tersebut dikulik lebih dalam, ada semacam rasa syukur dan kesadaran tinggi di dalamnya. Pertama, terlihat bahwa ada upaya untuk menjaga martabat, mempertahankan taraf hidup.. bahwa sesusah apapun hidup, urusan makanan masih harus lezat dan dapat membahagiakan jasmani rohani.. ya lewat sambal tadi. Sudah susah gak punya duit, eh masih bisa bikin sambal, yang mana untuk membuat sambel yang proper, tentunya perlu bahan lain selain cabai. Mungkin cabai masih bisa metik di halaman rumah, atau minta ke tetangga.. lha bawang e, moso yo meh njaluk juga. Kedua, Se enak-enaknya sambal, hanya akan nikmat jika disantap mendampingi makanan pokok kita. Di frase tersebut ada dua komponen comfort food di kala susah, dwi tunggal nasi dan sambal. Dari sejak awal penciptaannya, sambal memang tidak diciptakan untuk diperlakukan sebagai makanan pokok umat manusia, karena memang organ manusia tidak didesain untuk mampu menahan dahsyatnya ledakan reaksi kimia cabai di dalam tubuh. agak ngeri kalau posisi nasi atau karbohidrat di piring digantikan oleh sambal secara reguler. Kalau sampai ada orang makan sambal sampai kekenyangan, dapat dipastikan bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama akan mulai terjadi gangguan fungsi pencernaan di usus, dan tidak lama sebelunya mungkin sudah terjadi pendarahan fatal di selaput lambung. Makanya, se-susah-susahnya orang, dia tidak akan meninggalkan nasi sebelum sambal. Uwes urip susah, kok malah menyakiti diri sendiri. Entah, apakah sakit karena makan sambal secara masif dan tidak terkontrol dapat ditanggung oleh BPJS Kesehatan.  

Di satu titik, keberadaan sambal mengajak kita untuk sedikit berkontemplasi, Pertama, apakah kita benar-benar butuh secara esensial, atau posisinya hanya sebagai pemuas nafsu ragawi kita sebagai manusia? Pedasnya cabai mungkin hanya berpengaruh di lidah kita, Bahwasanya sambal terasa nikmat karena ia pedas. Disini terlihat adanya sebuah kontradiksi, kita merasa keenakan ketika sel sel indera perasa di lidah kita tersiksa panasnya reaksi kimia dengan senyawa kapsaisin. Agak sedikit sadis ya. Kedua, Sambal hanya bisa terjadi jika cabai dengan rendah hati melepaskan keterikatannya pada segala bentuk keduniawiannya dan menyatu dengan kosmos dalam cobek dan ulekan berpadu dengan bahan-bahan lainnya. Dalam sebuah sambal, peran cabai dominan tidak dapat dikesampingkan meskipun wujudnya sudah melebur bersatu manunggal dengan esensi yang berasal dari bahan lainnya. 

Memang manusia diciptakan dengan akal pikiran untuk dapat bertahan hidup, merangkai berbagai alternatif untuk mengatasi permasalahannya, begitu pula dengan urusan persambalan duniawi. Agak sedih ketika di internet sudah mulai banyak resep sambal yang dibuat tanpa menggunakan cabai. Sambal disebut sambal menurut saya karena ada unsur kegetiran dan kenikmatan yang tercipta selaras. Ada keseimbangan Yin dan Yang, Ada alpha dan omega, ada sebab dan akibat disitu, tidak boleh dipisah. Sambal yang dibuat tanpa cabai menurut saya sangat membahayakan definisi sambalitu sendiri. Memang dulunya sebelum masa hadirnya cabai di Indonesia, orang tidak membuat sambal dengan cabai, namun apakah kita akan kembali ke masa-masa itu. Sambal tanpa cabai seperti Alam semesta sedang menyambut kehancurannya sendiri. Unsur keseimbangan di dalamnya sangat rapuh, keselarasan kosmis yang tercipta di ulekan tidak akan tercapai, yang pada akhirnya tidak akan dapat mengantar penikmatnya ke dalam pencerahan diri. weh adoh tenann!!! Nah jika ada orang membuat sambal dibuat tanpa cabai, monggo silahkan, sebut saja, saus, dressing, atau yang lain, jangan sambal. plis ya.

Pedasnya cabai mungkin memiliki sensasi seperti opium, minuman keras, atau zat aditif lainnya, yang pada taraf tertentu menimbulkan efek ketergantungan. Dalam alam bawah sadar, kita pasti menyadari bahwa mengkonsumsi sambal harus dibarengi dengan kedewasaan pikiran, serius ini. Anda tidak dapat mekan sambal dengan lahapnya tanpa mengingat batasan diri dan konsekuensi gangguan pencernaan di belakangnya, kecuali kalau organ pencernaan anda terbuat dari logam adamantium berlapis emas berlian. Kembali ke statement di awal, orang bisa cukup hanya makan nasi dan sambal saja. Kenapa, berdasarkan penelitian yang saya lakukan, sendiri, pada diri sendiri, ketika menikmati pedasnya sambal, seluruh sel syaraf kita hanya fokus pada pedasnya sambal, sehingga untuk sesaat kita dapat melupakan beban hidup,tunggakan cicilan, deadline pekerjaan bahkan rasa jengkel karena bersenggolan dengan angkot di jalan. Air mata keluar, keringat bercucuran, semua indera hanya tertuju pada sensasi rasa membara di lidah. Sejenak, pertanyaan filosofis tentang ekstensialitas manusia hadir di dunia dapat dikesampingkan. Menyakitkan.. tetapi sangat menyenangkan. Sayangnya sensasi itu hanya terasa untuk sepersekian detik.  anda bisa memperpanjang sensasi tersebut dengan menambah kuantitas asupan sambal, meningkatkan level kepedasan, namun harap diingat, ada konsekuensi yang siap menghampiri di belakang! Begitu pula dengan efek ketergantungan yang ditimbulkan. Jadi seyogyanya di setiap kemasan sambal ditempelkan stiker "Sambal membunuhmu" atau "dont eat sambal and drive", lebay yen iki. 

 

Minggu, 28 Februari 2016

Bangsa yang besar adalah Bangsa yang tidak lupa Soto-nya

setelah menyeruput kuah soto terakhirnya, terbesitlah sebuah pemikiran di benak Mpu Tantular.. sebuah pemikiran yang berdampak besar bagi masa depan bangsanya. akhirnya setelah merenung dan bersemedi, tuntaslah pemikiran tersebut dituangkan dalam sebuah buku "Sutasoma". Bokkk.. gara-gara soto bisa jadi inspirasi karya sastra.. maklum, yang makan soto seorang filsuf.. beda kalau yang makan soto adalah fanboy K-pop, atau anggota dewan yang "terhormat".

Ternyata, slogan bhinneka Tunggal Ika terinspirasi dari semangkok soto.. kok bisa? begini ceritanya.
Mpu Tantular berpikir bahwa soto adalah makanan yang paling damai hidupnya.. mereka terbiasa menghadapi perbedaan dan memiliki pengalaman bertoleransi sejak awal mereka tercipta. Pernah dengar berita ada bentrok antara soto madura melawan soto kudus? atau pernah denger ada sengketa antara coto makassar dengan soto betawi? gak pernah kan?

let me proceed...

Menurut saya, masakan soto yang beraneka jenis macam ini adalah pelopor kehidupan Bhinneka Tunggal Ika yang sebenarnya. Contohlah soto madura yang tidak pernah berselisih paham dengan soto lamongan meskipun mereka hidup berdekatan. Ndak pernah ada cerita kalau rombongan suporter kesebelasan soto madura yang konvoi dalam perjalanan menuju final "kejuaraan piala soto" di Senayan lewat Lamongan dicegat dan dikeroyok suporter soto Lamongan yang terkenal fanatik parah. Ndak ada itu ceritanya..

Contohlah Soto Medan yang tidak pernah memboikot pembangunan warung Soto Betawi hanya dengan alasan takut terjadi "betawi-isasi" di lingkungannya. Tukang Soto Betawi atau soto-soto lainnya bebas mau buka warung dimana saja tanpa harus mengikuti aturan SKB 3 menteri. Aman! kebebasan mereka dijamin penuh dengan peri ke-soto-an, ndak perlu pake acara ngumpul-ngumpulin ribuan fotokopi KTP penikmat soto hanya untuk bisa dapat ijin mbuka warung soto. Simpel, yang penting warungnya jaga kebersihan, dibangun di tempat legal dan ndak jual soto "plus-plus". Itu saja.

Kenapa soto bisa banyak jenisnya dan aman damai sejahtera? karena untuk diakui sebagai Soto ndak ada pakem yang berbelit-belit dan harus ikut aliran soto tertentu.. bebas tanpa paksaan.. Hanya ada beberapa syarat simpel agar masakan berkuah bisa diakui sebagai soto, pertama, harus berkuah banyak.. jadi soto ndak boleh pelit kuah, kalau kuahnya masih pelit, mereka dipersilahkan menamakan diri sebagai "oseng-oseng". Syarat kedua, harus pakai daging rebus-tanpa-proses-ribet yang diiris kecil-kecil. Kalau tetep mau pakai daging ukuran besar, artinya belum layak disebut soto.. karena "ilmu berbagi"-nya masih lemah. makanan jenis ini dipersilahkan menyebut diri "Rawon", "Opor", "Kalio" atau "Bakso". Selebihnya, terserah.. mau kuahnya pake santen boleehhh.. mau kuahnya bening juga ndak papa. Mau pake rempah segala macam seperti soto padang atau mau pake kuah sederhana seperti soto polos bikinan ibu-ibu pas tanggal tua, bebas! ketika makanan itu sudah punya dua sense "berbagi" seperti syarat diatas, dia sudah setengah jalan untuk diakui sebagai soto. Meskipun kriterianya mudah, tapi soto punya garis keturunan yang jelas dan tegas.. sembarang masakan ndak bisa serta-merta menyatakan diri sebagai soto. Tom Yam ndak akan pernah bisa mengklaim bahwa dirinya adalah soto, atau Cream Soup tidak akan pernah diakui sebagai percabangan dari soto. Identitas soto itu jelas, ndak bisa sembarangan disusupi oleh masakan abal-abal yang mengaku diri sebagai soto..  apalagi kalau soto mau diaku-aku milik negara tertentu.. ndak bisa. Soto adalah soto, bukan makanan lain dalam bentuk soto, camkan itu anak muda!.

Dalam karakteristiknya masing-masing, para soto ini tidak pernah meributkan soto mana yang paling sah disebut soto asli. Anda tidak akan pernah menemukan berita tentang soto padang yang membentuk "Front Pembela Soto", atau soto ambengan yang membentuk "Koalisi Soto Garis Lurus". Karena soto-soto tersebut secara hakiki paham bahwa bukan tujuan mereka untuk saling berseteru dan saling menjatuhkan.. namun tujuan mereka adalah utamanya untuk memberi kebahagiaan bagi lidah dan perut tukang becak sampai pejabat, semuanya. terserah.. Jadilah seperti soto madura yang tidak pernah mengutuki "kafir" kepada soto lamongan, atau menyatakan bahwa soto ambengan adalah bid'ah atas perbedaan satu dan lain hal antara mereka meskipun mereka sama-sama berasal dari satu mazhab.. soto bening-an. mudeng koe son?!

Contohlah soto betawi atau coto makassar, mereka tampil apa adanya dengan kuah keruh tanpa malu menunjukkan kekeruhannya dan tanpa memaksakan diri agar terlihat bening seperti soto banjar, karena mereka paham, didalam keruhnya kuah itu terdapat kekayaan karakteristik yang berbeda dari soto bening-an, begitu pula dengan soto-soto beningan, mereka juga enggan berusaha memperkeruh dirinya hanya untuk menarik perhatian penggemar soto betawi, soto-soto ini anti kepalsuan, ndak munafik.. dan ndak ada niatan merebut rejeki soto lainnya. mulia sekali para soto ini..

Beda lagi kalau membahas soto gebrak, meskipun sering bikin penggemarnya kaget-kagetan, namun sebenarnya niat soto ini baik.. dia meskipun suaranya kenceng.. tapi tetap membuat kenyang penikmatnya... konon agar penggemar soto gebrak gak gampang kagetan menghadapi kehidupan yang tidak menentu.. ada ada aja iniii.. 

Masing-masing jenis soto baik yang pernah kesebut maupun yang belum kesebut diatas tadi sangat menghargai jati diri mereka masing-masing.. mereka bukan tipe masakan yang latah ikut trend. Mereka sangat tegas dalam menjaga jati diri, contohnya, soto Padang akan tetap disebut Soto Padang meskipun dijual di Ambarawa atau Papua, Soto Kudus akan tetap Kudus namanya meskipun bumbunya dimodifikasi mengikuti selera pembeli, pernah makan soto kudus pake wasabi? suatu saat akan ada modifikasi ini. Begitu pula dengan Soto Kwali yang masih kekeuh minta disebut sebagai "Soto Kwali" meskipun sebagian proses masaknya sudah pakai panci alumunium.

Kita bisa meniru sifat Soto yang rendah hati, ndak punya syarat dan ketentuan tertentu.. itulah yang menyebabkan soto bisa memiliki banyak penggemar. Gimana ndak rendah hati, lha wong soto bisa ditemui mulai dari emperan sampai hotel berbintang..  ndak neko-neko, dari dulu ya gitu-gitu saja penampilannya, daging, pake pelengkap kemudian diguyur kuah. Udah, gitu aja.. Soto juga ndak pernah minta ditemani anggur merah atau anggur putih, Ndak pake minum juga ndak masalah, kan kuahnya juga bisa difungsikan sebagai "minuman". Saking rendah hatinya si soto ini, dia ndak pernah ngalem harus disajikan di acara tertentu... mau disajikan buat sarapan.. bisa.. makan malam bisaa.. makan siang panas-panas juga boleh. tuh kan multi-multi deh. Soto tidak pernah memaksa penggemarnya untuk menikmati soto dengan cara tertentu.. Ini makan soto bung, bukan jamuan teh Kerajaan Inggris! jadi terserah sampeyan mau makan soto pake kecrotan jeruk nipis seberapa banyak, atau mau pake kecap berapa botol atau mau pakai sambel berapa sendok.. kembali ke selera masing-masing. sakkarep-karepmu.. sing penting mbayar

Beginilah sabar, sederhana dan rendah hatinya soto.. kita tinggal menunggu Peristiwa Kebangkitan Soto dan Kongres Soto Nasional sampai nantinya akan ada "Sumpah Soto" yang jadi tonggak berdirinya Negara Kesatuan Soto yang berslogan "Bhinneka Tunggal Soto"

Selasa, 09 September 2014

menyoal lampu hazard di perempatan

hazard lamp

Seorang teman kantor menulis status update tentang salah kaprahnya penggunaan lampu hazard ketika mobil melaju lurus di perempatan jalan, gw tiba-tiba berpikir.. bukannya memang kebanyakan kendaraan melakukan itu ya? Tapi gw sangat setuju bahwa penggunaan lampu hazard ketika hujan deras adalah bangke se bangke bangke-nya pengendara kendaraan bermotor. Pengalaman gw di berbagai kota di Indonesia membuat gw berkesimpulan bahwa penggunaan lampu hazard ketika mobil melaju lurus di perempatan jalan adalah hal yang wajar..

Sampai kemudian gw melakukan riset kecil-kecilan, akhirnya gw menemukan artikel di salah satu situs berita online yang menyatakan bahwa penggunaan lampu hazard di perempatan jalan ketika mobil melaju lurus di perempatan adalah salah satu salah kaprah yang terjadi secara terstruktur, masif dan sistematis. Walah..

lalu kemudian gw mencoba berpikir dengan sisa ruang tersedia di otak gw, dan gw menyimpulkan bahwa penggunaan lampu hazard ketika mobil melaju lurus di perempatan adalah hal yang tidak bisa disalahkan. (gw tidak mendukung bahwa lampu hazard wajib dinyalakan ketika melaju lurus di perempatan, dan gw tidak menyalahkan orang-orang yang dengan dodol tetap melakukan itu).

Mari kita lihat dari sudut pandang kata per-kata. "Hazard Lamp", terdiri dari dua kata yaitu "hazard" yang berarti waspada/bahaya lalu "lamp" yaitu lampu.. bukan cairan lengket yang mempunyai efek nge-fly kalau dihirup. Kedua kata ini kalau diartikan secara bebas bisa diartikan sebagai lampu penanda yang digunakan untuk memberi peringatan bahaya. Yang mana artinya bisa digunakan pada kondisi apapun ketika si pengguna merasakan adanya bahaya yang akan dihadapi, baik itu bahaya kecelakaan ataupun mungkin bahaya serangan alien di perempatan jalan. SUKA-SUKA-NYA DIA LAHHH.. Jadi, ketika pengguna jalan merasa nyawanya terancam di jalan raya, dia berhak menyalakan lampu kedip-kedip dua arah. Bahkan ultraman juga menggunakan lampu hazard ketika dia sudah hampir dikalahkan monster. Ada polisi yang berani menilang ultraman karena menyalakan lampu hazard-nya?

Kecenderungan penggunaan lampu hazard ketika mobil melaju lurus di perempatan jalan sering terjadi di daerah yang memiliki perempatan!! sori, maksud gw hal ini sering terjadi di daerah dengan tingkat kesadaran dan ketertiban pengguna jalan yang masih rendah. Contohnya: Medan, Padang dan Mataram. Ini hanya kesimpulan terbatas yaa.. tidak untuk digeneralisir. Semakin rendah ketertiban pengguna jalan, semakin sering ditemui kendaraan yang melaju lurus perempatan dengan menyalakan lampu hazard. Apa hubungannya ya?. Lagi tenang-tenangnya nyetir lurus di perempatan kemudian dari samping ada kendaraan lain PDKT.. (baca.. mendekat tanpa perhitungan dan dengan kecepatan yang agak maksa)... BRAKKK.. ternyata ketahuan bahwa kita ditabrak oleh kendaraan yang nyelonong lampu merah. Minimalnya dengan menyalakan lampu hazard bisa memberikan sedikit aba-aba "gw lewat, jangan ditabrak, belum lunas".

Jadi menurut gw, di daerah dengan tingkat ketertiban lalu lintas yang masih rendah, untuk melaju lurus di perempatan sama berbahayanya dengan kendaraan yang akan masuk jurang. Kenapa? ya karena pengguna jalan yang tidak tertib tadi... risiko kecelakaan mobil yang melaju lurus di perempatan jauh lebih besar daripada kendaran yang akan berbelok. Kenapa? karena sangat mungkin terjadi tabrakan dengan kendaraan dari arah samping yang nyelonong melanggar rambu-rambu lalu lintas. BISA JADIIII. Kendaraan yang melaju lurus mungkin ditabrak dari tiga arah, kiri, kanan dan dari arah depan. Kendaraan yang belok ke kiri, risiko hanya mungkin menabrak trotoar atau menabrak gerobak tukang bakso yang mangkal di tepi perempatan.. Kendaraan yang akan belok ke kanan pun mungkin hanya akan menabrak atau ditabrak kendaraan dari arah kanan atau dari arah depan. Jelas kan kalau melaju lurus di perempatan itu lebih berbahaya daripada melaju lurus dihatimuuuuu.. aakk aaakkkk aaaakkkk

Saking berbahayanya melaju lurus di perempatan, mungkin di dalam kendaraan yang menyalakan lampu hazard ada percakapan seperti ini "di depan ada perempatan, kita akan melaju lurus.. ijinkanlah saya memohon maaf atas khilaf dan kesalahan yang mungkin pernah terjadi sebelumnya baik itu disengaja ataupun tidak.. *kemudianmaafmaafan* *kemudiannangisnangisan*"

Yang jelas, penggunaan lampu hazard ketika kendaraan akan melaju lurus di perempatan wajib dilakukan untuk memberikan aba-aba bahaya bagi kendaraan lain di jalur depan, jalur samping kiri dan kanan serta kendaraan di belakang jika kita akan melaju lurus ketika lampu lalu lintas menyala warna MERAH!!!



Rabu, 02 Juli 2014

urgently required: emotion-bender avatar

Ketika mulai terdengar nada suara meninggi, ketika raut muka memerah padam, ketika urat-urat di leher menunjukkan eksistensinya, ketika tatapan mata meruncing, saat itulah gw harus mulai menyiapkan kuda-kuda untuk melangkah mundur. Gw agak kurang bisa berdekatan dengan luapan emosi.. daripada harus terjadi adu elmu tenaga dalam atau pertumpahan darah yang tidak diperlukan, atau kujungan aparat hukum yang patut dihindarkan, mending gw menyingkir dulu..

Seringkali terjadi hal yg tidak sesuai dengan keinginan kita. Tapi apakah masalah tersebut harus dihadapi dengan emosi? Apakah emosi bisa melegakan kekecewaan kita? Apakah masalah bisa tiba2 selesai dengan meluapkan emosi? Emosi itu manusiawi, namun emosi harus disalurkan dengan benar.. Bukan diledak-ledakkan ke semua arah.
Memang lebih mudah untuk mengucapkan umpatan daripada menahan diri dan memikirkan keadaan. Orang kebanyakan mungkin berpikir bahwa meluapkan emosi akan memberikan ketenangan. Iya, tapi itu hanya ketenangan semu yang harus anda sesali beberapa saat setelahnya.

Ketika emosi memenuhi isi kepala, kita tidak akan bisa fokus. Kita hanya akan terdorong untuk melepaskan amarah, bukan terdorong untuk mencari solusi. Memendam emosi tidak baik bagi kesehatan. Tapi meluapkan emosi sangat tidak baik bagi hubungan dengan lingkungan kita. Untuk itulah emosi harus dikendalikan. Bagaimana caranya? Silahkan cari cara yang paling tepat untuk diri anda sendiri!
Emosi yang tidak terkelola adalah pangkal dari hal buruk yang akan terjadi selanjutnya. Harap ingat itu baik-baik. Emosi yang meledak akan membuat indera serta perasaan anda tumpul secara temporer. Dan saat hal tersebut terjadi, anda telah kehilangan kontrol atas diri sendiri. Ini yang gw bilang dengan emosi adalah pangkal dari banyak hal buruk yang akan terjadi selanjutnya.

Mungkin belum ada hasil penelitian yang mengaitkan antara emosi dan egoisme. Namun dua hal ini menurut gw berhubungan sangat erat. Kecenderungan ini yang harus dicemaskan. Semoga orang-orang penyabar tidak segera punah. Tingginya tempramen seseorang bisa dipengaruhi dari diri sendiri atau dari lingkungan sekitar. Tetapi disini gw ingin mengajak kita semua untuk belajar mengelola emosi bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi lebih kepada untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi orang-orang disekitar kita. Terlebih lagi apabila terdapat anak-anak disekitar anda. Jangan berikan contoh kepada mereka untuk meluapkan emosinya secara berlebihan. Anak kecil yang dibesarkan dalam lingkungan penuh amarah bisa saja tumbuh dengan emosi yang meluap-luap atau justru sebaliknya.. muncul rasa rendah diri dalam anak itu. Tolong ingat ini, mari hentikan budaya kekerasan dengan belajar mengendalikan diri.. terutama emosi.

Jumat, 27 Juni 2014

tata tertib pemilu.. wajib dibaca sebelum anda mendatangi TPS

tata tertib pemilu

1. Anda tidak perlu membawa alat pelubang kertas suara dari rumah. Tidak perlu membawa paku atau linggis sendiri dari rumah karena panitia TPS pastinya menyediakan paku di bilik suara.. jika kurang yakin terhadap ketajaman alat coblos kertas suara, anda cukup membawa alat penajam golok dari rumah. Kalaupun ternyata panitia pemungutan suara tidak menyediakan alat pencoblos, anda masih bisa melaksanakan hak anda di bilik suara. caranya, ambil tusuk konde emak-emak yang kebetulan mengantri di TPS, pakai itu! atau anda bisa mencoblos juga dengan menggunakan pentungan milik petugas keamanan TPS.
2. pahami prosedur pemungutan suara. Ingatlah bahwa anda harus mengeluarkan kartu undangan pemilih atau dokumen yang diperlukan. CUKUP ITU SAJA! anda tidak perlu mengeluarkan uneg-uneg curhatan atau mengeluarkan emosi dan perasaan kepada panitia TPS. Anda juga tidak perlu mengeluarkan anggota badan yang tidak diperkenankan oleh norma dan tata krama! seperti contohnya, upil!
3. jangan lupa membuka surat suara. Ketika anda menerima surat suara dari panitia TPS, harap diingat bahwa surat suara tersebut dalam posisi terlipat. Jangan sampai karena anda terlalu bersemangat mencoblos, anda lupa membuka surat suara terlebih dahulu. Ingat, jangan membuat hasil kerja para pelipat kertas suara mubazir karena di setiap lipatan kertas suara tersebut ada hasil keringat para pekerja pelipat. Jangan sia-siakan hasil kerja mereka.
4. coblos surat suara. Harap diingat bahwa jika anda mencoblos apapun selain surat suara, dapat dipastikan bahwa hak suara anda dinyatakan tidak sah. Ketika anda berada dalam bilik suara, benda yang harus anda coblos adalah surat suara.. bukan bilik suara, alas bantalan coblos ataupun... panitia pemungutan suara. Harap ingat itu baik-baik.
5. Pemilih diwajibkan membubuhkan tanda identifikasi setelah menyalurkan suaranya di TPS. Setelah memasukkan surat suara ke kotak suara, bukan kotak amal ataupun kotak sumbangan anda wajib mencelupkan jari ke tinta sebagai penanda bahwa anda telah menyalurkan suara. ingat, celupkan hanya satu jari.. jari tangan! bukan jari kaki! Dan mengingat bahwa persediaan tinta penanda pemilu jumlahnya terbatas, anda dilarang untuk mencuci muka atau menggosok gigi dengan cairan tinta tersebut!
6. lipatlah kembali surat suara seperti pada awal. Ingatlah bahwa kertas suara dilipat agar dapat dimasukkan ke kotak suara dengan mudah. Pastikan anda telah melipat surat suara sebelum dimasukkan ke kotak suara. Cukup dilipat seperti sebagaimana anda menerima surat suara tersebut. Meskipun anda memiliki keahlian origami tingkat juara nasional, anda tidak perlu melipat kertas suara sehingga berbentuk gajah, burung, bunga mawar, amuba, kodok dll, dsb.. nyusahin penghitungan suara!!!
7. Ketika anda menghadapi bilik suara, sama seperti ketika anda menghadapi maut. SENDIRIAN! anda tidak diperkenankan mengajak teman atau pasangan. ini adalah bilik suara, bukan ke toilet umum dan bukan ijab kabul ya.

Sekian tips dari saya semoga bermanfaat, SALAM JARI JARIIIIII!!

Rabu, 25 Juni 2014

wanna lose some fat? Plan a marriage!

tenang, kali ini gw nggak akan ngasih tips diet yang melibatkan barbel, treadmill ataupun gerakan-gerakan absurd yang terdapat pada "gambar panduan gerakan dasar senam SKJ 1994". Gw juga nggak akan memberikan aturan khusus untuk mengkonsumsi bahan makanan tertentu seperti telur singa, air susu kadal atau serat beling. Program diet ini juga tidak akan melibatkan prosedur-prosedur khusus seperti membatasi waktu makan seperti cara diet O-Cepe-Deeh.
Gw berani jamin program diet ini tidak akan menyiksa secara fisik.. karena pastinya program diet gw akan menganiaya lemak-lemak anda secara mental. Lemak-lemak di tubuh pasti akan bergetar hebat tanpa anda harus melakukan gerakan berat dan melelahkan.
Namun program diet ini tidak akan bisa dilakukan jika anda sedang jomblo atau sudah menikah, atau anda yang saat ini sedang berpacaran tapi tidak serius. Program diet ini membutuhkan komitmen kuat. Karena program diet ini bernama "Pre Wedding Diet". Yah tidak jauh beda dengan konsep foto prewedding sih.. karena foto prewed terlalu mainstream, saya mengajak anda untuk melakukan diet prewedding.
Apakah anda tahu, dengan merencanakan pernikahan, anda dapat sekaligus mengurangi berat badan secara signifikan. Diet ekstrim berbahaya. Begini caranya,
Pertama, untuk memulai diet ini anda harus secara dadakan mengatakan kepada pasangan anda (ini yang tidak bisa dilakukan oleh para jomblo, sori yak) "Sayang, kita nikah yuk!". Ketika anda mengatakan itu, secara otomatis 500 kalori telah terbakar dalam 5 menit setelahnya. Dan hal ini juga akan berdampak sama bagi pasangan anda, dia juga akan kebakaran kalori karena syok atau kaget seketika.
Langkah kedua dalam program diet ini adalah, tetap tidak memerlukan aktifitas fisik yang melelahkan, diskusikan bagaimana konsep pernikahan anda bersama pasangan. 10 menit proses ini akan membakar kalori lebih banyak daripada aktivitas ngupil selama dua jam. Semakin panjang diskusi dan semakin ribet prosesi yang dibahas, maka kalori yang terbakar juga akan semakin banyak.. 200.000 kalori akan terbakar secara sempurna jika dalam proses diskusi ini melibatkan emosi dan ego masing-masing pihak dengan bumbu-bumbu tangisan, gebrakan meja, teriakan dan bakar-bakaran ban (sori-sori, gw malah mbahas demonstrasi di DPR). Semakin banyak membahas urutan prosesi yang direncanakan, semakin banyak pula metabolisme tubuh yang terpompa maksimal. Jadi saran gw, silahkan membahas rencana pernikahan dengan membawa galon air minum, tameng dan water canon secukupnya.
Langkah ketiga, disini yang harus bekerja untuk membakar kalori adalah mata anda. Fokuskan pandangan anda ke dua hal... brosur wedding organizer/catering dan buku tabungan anda. Perbanyak aktivitas melihat brosur kemudian bandingkan dengan saldo rekening tabungan. brosur.. rekening..brosur..rekening..brosur sampe juling. Banyaknya kalori yang terbakar tergantung dari seberapa jauh selisih negatif angka di buku tabungan dibandingkan dengan daftar harga brosur. Mohon diingat bahwa harga di brosur hanya setengah dari biaya riil yang harus anda keluarkan. Rumus penghitungan kalori yang terbakar disini adalah {0,0002 x (2x harga paket pernikahan dikurangi saldo rekening tabungan anda}. Misalkan harga paket yang diambil Rp60.000.000 dan saldo rekening anda terdapat angka Rp101.000 (batas saldo minimal rekening) berarti dalam aktivitas ini anda telah membakar lemak sebanyak {0,002*(2*60.000.000)-101.000} 239.798 kalori.. dan kalau prosedur diet ini dilakukan dengan baik, anda harusnya sudah berbentuk seperti rempeyek hehehehe..
Langkah ke empat, hunting perlengkapan kebutuhan pernikahan. Disini, jumlah kalori yang terbakar ekuivalen dengan seberapa banyak anda mengeluarkan biaya bensin ditambah berapa kali anda melakukan {parkir-turundarikendaraan-larilarikecil-nanyanayaditoko-larilarikecillagi-ngomelngomelsambillarilari-naikkendaraan-bayarparkir} dan tergantung berapa banyak item yang harus anda cari untuk keperluan resepsi. Hanya prosedur ini yang membutuhkan aktivitas fisik.. tapi tenang, aktivitas ini tidak akan semelelahkan lomba maraton-duatlon-triatlon-empatatlon dll dsb secara bersamaan.

akhir kata.. mungkin diet ini tidak menyehatkan.. tapi pastinya MENGURUSKAN! selamat mencoba :) semoga berbahagia sepanjang masa :)

Selasa, 18 Februari 2014

tebak-tebakan dalam angka dan kata

Apa anda tahu ada berapa jumlah kata yang ada pada kamus besar bahasa indonesia? Hayo ada yang tau nggak? Yang jelas buku KBBI ini jauh lebih besar daripada dunia karena kata orang, dunia ini hanya selebar daun kelor.. err nggak cuma lebih besar sih.. lebih tebal dan berat juga
Oke, karena saya tau pembaca blog ini bukan tipe orang yang niat banget buka kamus untuk ngitung jumlah kata didalamnya maka gw akan coba meriset bentar.. *bukakamus* *itunginkatasatusatu*

*limaabadkemudian*

kurang lebih jumlah lema (kata) yang terdapat di KBBI edisi IV sebanyak 90.000 kata. Kurang lebih loh yaa.. kalo kurang silahkan ditambahin, kalo lebih monggo kalo mau dikurangin.

Nah! dari 90.000 kata itu, kurang lebih 1/7 bagiannya adalah kata kerja dan 1/7-nya lagi adalah kata benda (itung-itungan ngasal). Artinya, Bahasa Indonesia paling tidak punya 12.857 lema kata kerja, begitu juga dengan kata benda-nya.

Artinya, kalau pacar anda punya hobi main tebak-tebak-an dengan pertanyaan "hayo coba tebak aku lagi ngapain?", saran saya adalah.. menyerahlah! Kemungkinan anda menjawab benar adalah sangat rendah! saran saya, segeralah cari empang terdekat dan berenanglah menuju ke laut terdekat. Jangan dijawab! UMPTN aja kalo salah jawab soal dapet nilai minus 1, kalo nggak jawab dapet nilai nol. Mending gak usah jawab kan :)

Kemungkinan anda menjawab pertanyaan itu dengan benar adalah 1/(12.857*12.857) (1/"jumlah kata kerja dikali jumlah kata benda") (coba diingat rumus perhitungan peluang dan kombinasi di buku matematika kelas 2 SMA).. artinya, anda hanya akan bisa menjawab benar pertanyaan "Hayo tebak aku lagi apa?" dalam 165.304.285 kali tebakan. Tentunya persentase ini jauh lebih kecil dari kemungkinan menjawab benar dalam soal UMPTN atau TPA atau bahkan tes toefl sekalipun.

Persentase itu akan lebih rendah apabila format jawaban yang diharapkan adalah berupa kalimat yang lebih lengkap.
Mungkin persentasenya akan jadi seperti ini:
1/(jumlah kata kerja dikali jumlah kata benda dikali jumlah kata keterangan tempat dikali jumlah kata sifat)

Untungnya jenis pertanyaan ini tidak akan pernah muncul dalam ujian apapun di dunia.. kecuali si pembuat soal sedang galau atau sedang mengalami PMS akut.

Moral dari tulisan ini adalah... harap bersabar jika pacar anda punya hobi seperti ini :) you're not alone..

Selasa, 20 Agustus 2013

Merdeka! Err... tapi kok

Gw belum pernah dengar orang-orang di kota besar beramai-ramai mudik ke kampung halaman menjelang 17 agustus tiap tahunnya.Gw belum pernah melihat  Cikampek, Nagreg, Cirebon, Merak diberitakan macet total ketika menjelang libur 17an.

Gw belum pernah melihat ada orang yang mati-matian mengajukan cuti untuk bisa merayakan hari kemerdekaan di kampung halaman. Gw belum pernah melihat orang merelakan membolos meskipun diancam sidak dan berbagai sanksi di hari pertama setelah libur 17 agustus.

Gw belum pernah melihat orang-orang menghidangkan aneka kue kering setiap perayaan kemerdekaan. Gw belum pernah melihat ada masakan khusus yang sengaja dihidangkan seusai masyarakat menghadiri upacara 17an.

Gw belum pernah melihat mall-mall rame penuh sesak karena orang sibuk membeli baju baru untuk memperingati hari kemerdekaan. gw belum pernah mengetahui ada kenaikan harga sembako menjelang 17 agustus. Gw belum pernah melihat ada midnight sale dengan diskon diluar nalar di berbagai pusat perbelanjaan menjelang 17 agustus.

Gw belum pernah melihat orang berombongan berkeliling ke tetangga dan saudara untuk saling bersalaman dan mengucapkan "selamat hari raya kemerdekaan Indonesia".

Gw berlum pernah melihat ada perusahaan swasta/ instansi pemerintah yang memberikan tunjangan hari kemerdekaan menjelang 17 agustus.

Eh tapi bener kan ya kita merayakan kemerdekaan setiap tanggal 17 agustus?

powered by OTAKKANANBERRY

Kamis, 15 Agustus 2013

malam gelap, antara film horor dan tikus purba sampai perburuan logam mulia

Kenapa pilem horor selalu memunculkan adegan setan ketika malam hari?

Kenapa anak kecil dilarang keluyuran malam hari?

Kenapa lampu harus dinyalakan ketika malam hari?

Kenapa lembur di malam hari rate honornya dobel?

Dan kenapa penjual gudeg ceker hanya berjualan di malam hari? *ngasal*

Karena manusia ternyata masih takut terhadap gelap.. percuma dulu lagu tasya ngehit di tahun 2000an judulnya "jangan takut gelap". Sekarang 2013 orang masih aja takut gelap-gelap-an. err gw juga agak merinding kalo lagi gelap-gelap-an sih, tapi nggak takut, cuman segan aja. :)

Trus kenapa orang harus takut gelap? sebenarnya menurut gw sih bukan takut, tapi lebih waspada ketika gelap. Kenapa? karena spesies manusia lebih mengutamakan indera penglihatan daripada indera-indera lainnya. Ketika gelap pastinya orang akan tidak akan bisa mengantisipasi lingkungan sekitarnya sebaik ketika ada cahaya. Orang nyetir mobil, pake mata kan? Orang kerja, pake mata juga kan? Orang pup, errr.. pake mata juga sih harusnya. Akan sangat seru ketika orang bisa menjaga jarak antar kendaraan di jalan raya hanya dengan menggunakan indera penciuman atau perasa. Keren adalah ketika orang bisa menghindari tabrakan hanya dengan mencium aroma knalpot mobil di depannya. Fast n furious pastinya akan jadi sangat cupu.

Salahnya evolusi manusia adalah dengan mengembangkan kemampuan melihat, spesies kita menurunkan kemampuan indera lainnya. Kalau indera perasa berperan sentral dalam peradaban dan ber-evolusi dengan baik, mungkin definisi horor bukan tentang hantu tapi tentang makanan pedas! uji nyali bukan lagi acara di tempat-tempat angker tapi akan berubah jadi acara tantangan makan cabe terbanyak atau lomba makan rendang terpedas sejagat raya.

Balik ke kenapa tiba-tiba muncul ketakutan terhadap kegelapan... ternyata ini adalah warisan peradaban prasejarah yang masih diwariskan ke manusia jaman sekarang. Lagi-lagi karena indera penglihatan yang terlalu diutamakan. Dulu ketika jaman manusia masih pake kolor daun dan makan batu, manusia sangat rentan diserang hewan buas seperti tikus purba, kucing purba.. dsb. Jangan nanya kenapa tikus purba sangat menyeramkan di jaman dulu, kadal purba aja sebesar godzilla, apalagi tikus purba coba! Nah kewaspadaan manusia yang lebih mengandalkan penglihatan mengakibatkan orang pada jaman itu lebih sensitif dan cenderung paranoid ketika malam hari. Salah-salah lagi enak tidur tiba-tiba digigit tikus purba.. iya kalo digigit sampe mati, nah kalo cuman digigit trus dilepehin.. cacat seumur-umur ituu! aib euy aib!

Mengantisipasi kenyataan bahwa nyawa manusia purba bisa tiba-tiba hilang ketika malam hari, mereka menciptakan cahaya buatan di malam hari.. yaitu api! yaiyalah gak mungkin jaman segitu orang bikin lampu neon, belum ada thomas alfa edison lah di jaman purba. Orang mulai menghalau hewan buas dengan api unggun.

Rasa takut terhadap kegelapan juga ternyata juga menjadi akar peradaban... gak percaya? sekarang gw nanya, kenapa orang berburu emas, logam mulia, batu-batu permata?! Menurut gw karena sejak jaman prasejarah, orang selalu berburu cahaya, mereka memiliki ketertarikan terhadap segala hal yang berkilauan. Dan itu yang menyebabkan orang menyukai batu-batu permata, logam mulia... hanya diawali karena manusia membutuhkan cahaya untuk mengusir kegelapan (sumpah, ini logika ngaco banget). Mungkin ini juga yang membuat banyak orang berlomba-lomba memutihkan dan mencerahkan warna kulit.. takut gelap!

Awalnya dimulai dengan rasa waspada, takut, sampai sekarang akhirnya jadi bagian dari industri mainstream.. itulah kegelapan.. ketiadaaan cahaya #ahuwesahngacone

Senin, 01 Juli 2013

panas dalam: apa itu?

ketika di depan lemari pendingin sebuah minimarket yang ukurannyanya jauh lebih gede dari lemari pakaian gw, tiba-tiba mata gw melihat ke satu deret rak yang memajang beberapa jenis minuman yang selama ini nggak pernah gw notice sama sekali. Deretan minuman pelega panas dalam. Trus tiba-tiba gw kepikiran, sebenarnya penyakit panas dalam ini apa ya? udah lebih dari seperempat abad gw ngupil sambil mikir tapi kenapa selama ini nggak pernah kepikiran tentang apa itu panas dalam..

oke, gw ngupil dulu ya, siapa tau tercerahkan dan misteri tentang panas dalam akan segera terungkap

*ngupildalamdamai*

Berdasarkan nama penyakitnya, "panas-dalam" gw menyimpulkan bahwa penyakit ini bisa dianalogikan seperti lava panas segar di perut gunung krakatau atau merapi yang kalo lagi kumat akan menyembul memuntah keluar secara anarkis. Gitu nggak ya?

*ngupillagi* *mikirlagi* *kali-ini-sambil-sikap-lilin*

Sepertinya gw mulai mendapat pencerahan tentang panas dalam, mungkin apakah yang dimaksud "sedang mengalami panas dalam" adalah ketika...
a. Ketika seseorang berasap ngelihat pacarnya selingkuh di depan mata
b. Ketika seorang staf berasap diomelin maraton orang sekantor..
c. Ketika setan gentayangan berasap karena dibacain ayat kitab suci

Tapi sepertinya tiga indikasi panas dalam diatas nggak valid, karena gw nggak pernah ngelihat hal-hal aneh di supermarket terkait kaleng dan botol minuman pelega panas dalam. Gw nggak pernah ngeliat ada orang di kasir minimarket nangis-nangis sambil megang botol larutan panas dalam.. dan curhat ke si kasir kalo lagi panas dalam karena diselingkuhin pacarnya. Gw juga nggak pernah ngelihat ada orang ngomel-ngomel di kasir ketika membayar larutan panas dalam dan si kasir kena omel oleh orang yang lagi panas dalam tadi ngomel-ngomel karena diomelin orang-orang sekantornya (ruwet dah). Sepertinya pekerjaan sebagai kasir minimarket akan jadi pekerjaan paling menguras perasaan kalau memang seperti itu indikasi atau tanda-tanda panas dalam. Pekerjaan sebagai kasir minimarket (terutama kasir minimarket 24 jam) akan jadi pekerjaan yang sangat menantang kalau memang gejala nomor tiga benar-benar terjadi, Coba bayangkan tengah malam sebuah minimarket tiba-tiba berubah jadi tempat paling angker karena pocong, kuntilanak, genderuwo lagi ngumpul disana ngeborong larutan penyegar panas dalam karena mereka baru saja kalah berantem lawan ustad yang ngebacain ayat-ayat kitab suci. Horor kan ya?! Satu bukti lagi, gw juga nggak pernah ngelihat ada larutan penyegar panas dalam di sesajen acara-acara misteri di tipi..

oke, sepertinya gw masih harus ngupil lagi untuk memahami panas dalam..

*ngupildimulai*

Rabu, 19 Juni 2013

lomba masak di senayan

Selamat datang di lomba masak terbesar periode ini! Pertandingan ini akan diikuti empat tim yaitu tim biru, tim merah, tim kuning pohon dan tim kuning padi kapas. Masing-masing tim nantinya akan membuat masakan yang nanti hasilnya akan diuji coba oleh dewan juri dimana pemenang lomba masak akan memperoleh hadiah sebuah kursi yang dapat menentukan selera makan rakyat indonesia di 2014 dan lima tahun setelahnya. Tim dinyatakan sebagai pemenang ketika hasil masakannya disukai oleh seluruh juri. Pada lomba masak kali ini tiap-tiap tim akan bebas meramu bahan dan bumbu rahasianya masing-masing sesuai resep rahasianya. Panitia tidak membatasi jenis dan jumlah bumbu yang akan digunakan, tetapi hanya akan membatasi uang yang dapat digunakan oleh masing-masing tim.

Terlihat bahwa tim biru sangat sederhana mempersiapkan bahan dan bumbu yang akan digunakan.Hanya terdapat sedikit bahan makanan yang terlihat disana, hanya bawang merah, bawang putih, kedelai, dan sedikit garam. Yang membedakan tim biru dari tim-tim lainnya adalah mereka menggunakan alat masak dengan ukuran yang jauh lebih besar dari tim-tim lainnya, mengingat bahwa tim biru adalah pemenang lomba memasak dua periode berturut-turut. Wajan yang sangat besar untuk memasak bahan yang sederhana.. hmmm.. sepertinya tim biru sedang sangat berhati-hati membelanjakan uangnya. Di meja tim kuning pohon sepertinya tidak ada persiapan yang mencolok.. seluruh tim terlihat sedang tenang sambil berjumawa.. ada apa gerangan di tim peserta tertua ini?! Pimpinan tim ini terlihat tenang mengusap dagunya.. sepertinya mereka menyimpan sesuatu dibalik ini.. yah kita lihat saja hasilnya nanti. Di meja tim merah, terlihat bahwa mereka menggunakan peralatan masak ala wong cilik, tungku kayu dan wajan dengan tambalan dimana-mana. Mengapa mereka menggunakan alat masak sederhana padahal mereka bisa saja menggunakan alat masak tercanggih seperti tim-tim lain.. Disini terlihat bahwa resep mereka menggunakan bahan-bahan sisa lomba masak tahun sebelumnya dengan komposisi resep yang nampak sangat berbeda dari tim biru, moto mereka sepertinya "we are anti mainstream, we dont cook what blue cook!".. hmm kita lihat bagaimana hasilnya nanti. Di meja tim kuning padi kapas, terlihat bahwa hidangan utama mereka akan menggunakan bahan dasar sapi. Sebentar, menurut pandangan reporter kami @indra_santoso sempat terlihat  beberapa bahan seperti ayam dan susu di meja tim ini. Kira-kira, apa yang akan dimasak tim ini dengan kombinasi ayam-daging dan susu.. Selebihnya sepertinya sama dengan tim-tim yang lain. 

Kita akan melihat bagaimana hasil masakan yang dihasilkan keempat tim ini nantinya, 

45 menit kemudian, waktu memasak telah habis, 

Tim biru ternyata memasak nasi goreng... makanan favorit banyak orang di negeri kita, hmm setelah dicoba oleh juri, masakan ini dirasakan kurang bumbu, sedikit tawar dan tidak berbeda dengan nasi goreng-nasi goreng buatan warung kaki lima padahal bahan dan peralatan yang digunakan tentu saja berbeda. Ada apa ini, apa maksud dari tim biru? ternyata, tim biru dihadapkan pada keterbatasan biaya membeli bahan dan bumbu karena mereka dihadapkan pada harga bahan yang terus meninggi dan alat masak yang meskipun besar tapi bolong dimana-mana. Mereka berdalih bahwa masakan yang dihasilkan harus bisa semaksimal mungkin dirasakan oleh orang banyak secara adil.. jadi semua akan merasakan nasi goreng kurang bumbu tersebut secara sama. Eh tapi sebentar, mereka ternyata membagi-bagikan BALSEM kepada dewan juri untuk mencegah perut mules akibat memakan masakannya.

Tim kuning pohon.. err... ternyata juga memasak nasi goreng.. Yang panitia herankan dari tim ini adalah, dari tadi mereka terlihat santai dan tenang tapi tiba-tiba mereka menghasilkan nasi goreng.. Dari mana datangnya? Ternyata tim kuning pohon menggunakan bahan dasar nasi goreng dari tim biru, oh ternyata tim biru memberikan sebagian nasi gorengnya kepada tim kuning pohon. Haduh kelakuan ya! Menurut penyelidikan panitia, ternyata telah terjadi kesepakatan memasak diantara tim biru dengan tim kuning pohon bahwa tim kuning pohon akan membantu tim biru memberi wajan dan kompor berukuran besar dengan syarat bahwa tim biru harus membagikan masakannya kepada tim kuning pohon. Ternyata mereka berkoalisi dalam lomba ini sodara-sodara. Tim kuning pohon hanya menambahkan bumbu sedikit untuk menghilangkan bau lumpur yang muncul dari bekas alat masak yang mereka pakai sebelumnya. 

Tim kuning padi kapas yang di awal acara terlihat menggunakan bahan dasar daging-ayam-susu, ternyata juga memasak nasi goreng sodara-sodara.. tapi lebih spesifik, nasi goreng daging sapi, suwiran ayam dan sedikit susu sebagai pemanis!. Agak mencurigakan mengingat bahwa dari tadi mereka tidak terlihat menyiapkan bumbu dan bahan nasi goreng tapi bisa menghasilkan nasi goreng. Jangan-jangan mereka juga ada hubungannya dengan tim biru? Jika dilihat dari bentuk dan aroma nasi gorengnya, selain unsur daging, ternyata nasi goreng mereka sangat mirip dengan nasi goreng buatan tim biru. Oh mereka ternyata menyangkal jika dibilang bahwa mereka bekerja sama dengan tim biru, mereka menolak tuduhan itu. Mereka secara keras dan tegas menyatakan bahwa nasi goreng buatan mereka berbeda dari tim biru. Namun jika dilihat lebih lanjut, dari tadi ada tiga orang juru masak tim ini yang mondar-mandir ke arah meja masak tim biru. Ada apa ini sodara-sodara? 

Tim merah yang dari awal menyatakan akan membuat masakan berbeda dari tim biru menghasilkan masakan nasi.. bukan nasi goreng.. tapi nasi uduk. Hmm agak aneh rupanya nasi uduk buatan tim merah karena mereka menggunakan bumbu dan bahan dari sisa lebih dari tahun sebelumnya untuk menutupi kekurangan kebutuhan bumbu yang tiba-tiba mahal karena kenaikan harga bumbu di pasar global. Namun sangat disayangkan sepertinya masakan mereka tidak akan banyak disukai dewan juri karena masakan mereka menggunakan resep dengan komposisi yang kurang pas. cabai dan merica terlalu banyak, mungkin akan terlalu pedas.. apalagi jika dibandingkan dengan masakan tim biru yang kurang bumbu.

Waktunya penjurian telah tiba.. satu persatu juri mencoba hasil masakan keempat tim, namun yang terjadi adalah juri menyerah! mereka tidak kuat mengicipi masakan tersebut. ada yang tiba-tiba mual, ada yang tiba-tiba kambuh alerginya, ada juri yang kolesterol dan asam uratnya meninggi, dan berbagai simtom lainnya. Yah mungkin ini yang terjadi jika lomba masak diikuti oleh bukan ahli masak...

Senin, 17 Juni 2013

kebelet, chemical reaction-based self motivator

Mungkin tulisan ini akan segera dimusuhi oleh motivator superstar di tipi, dan mungkin karena tulisan ini, seluruh buku di rak "motivation" akan tiba-tiba ditarik dari peredaran karena tidak akan pernah ada yang membeli buku semacam itu lagi. Kali ini gw akan mengajak semua pembaca tulisan ini untuk menemukan motivasi dari dalam diri masing-masing. Bukan! gw nggak akan mengajak untuk melakukan meditasi di kaki gunung apalagi di kepala gunung. Gw juga nggak akan mengajak kalian untuk melakukan ritual yang berhubungan dengan kembang, dupa, lilin dan kolor pak RT. Tenang, gw hanya akan mengajak kalian memusatkan konsentrasi pada tubuh bagian bawah masing-masing. HUSS JANGAN NGERES!! gw nggak ngajak kalian untuk memusatkan perhatian ke organ tertentu secara partikular ya. Nantinya, kalian semua akan merasa memiliki kekuatan superpower, rasa percaya diri yang melebihi syahrini (eh kenapa harus syahrini cobaa...).. bahkan kalian bisa merasa menjadi penguasa dunia!!! *in your dream!*

Yak kali ini gw akan menunjukkan bahwa tubuh kita, secara kimiawi memiliki mekanisme autonomous untuk memotivasi diri sendiri. Jadi, mulai sekarang silahkan untuk meng-UNREG langganan konten motivasi, sumbangkan buku koleksi motivasi kalian, bakar tiket seminar motivasi seharga jutaan rupiah yang secara khilaf sempat dibeli, dan tolong, itu, poster Ma*io **guh boleh dicabut dari dinding kamar.. kasian nyamuk2 di kamar pada kehilangan nafsu makan gara-gara poster itu. Sadar nggak sih kalau ternyata, ketika kita kebelet, terjadi reaksi tertentu di otak (Oke, reaksi kimia di area pantat dan sekitarnya mungkin lebih terasa dan dominan) yang mendorong kita untuk segera melakukan tindakan apapun untuk segera menghilangkan rasa mules. Sekali lagi, APAPUN! Gw yakin, meskipun kalian sedang asyik berkaraoke, pastinya akan langsung lari ke toilet kalo tiba-tiba kebelet. Dan gw yakin, banci-banci yang dikejar kamtib akan berani melawan kalau mereka tiba-tiba kebelet dalam pengejaran.

Ketika kebelet, orang akan rela melakukan apapun, (bahkan meskipun harus melawan hukum) untuk menghilangkan dorongan rasa mual kronis temporal di area perut dan sekitarnya. Kerelaan untuk melakukan apapaun.. yang bertransformasi menjadi keberanian dan diakhiri dengan kenekatan, hanya untuk membebaskan diri dari rasa sakit-sesak-begah di sekitar perut. Emak-emak yang biasanya naek motor pelan-pelan pun akan bisa jadi pembalap selevel jorge lorenzo kalo mereka lagi kebelet pas di perjalanan pulang dari pasar. Boro-boro lampu merah, rombongan presiden lewat pun mungkin akan diterobos si emak yang tiba-tiba merasa dirinya adalah pemimpin geng motor lokal.

Rasa-mules-kebelet juga dapat mendorong orang untuk berpikir lebih cepat serta efisien. Gak percaya? gw pernah mengalami ini! Suatu ketika pas sma kelas 2 pas lagi ujian sejarah, tiba-tiba ada perasaan insecure di perut gw, ah damn! kebelet di saat yang tidak tepat. Ujian masih akan terasa panjang, masih banyak soal yang belum gw kerjakan. Kalo gw pelan-pelan ngerjainnya, bisa jadi nama gw akan muncul dalam buku sejarah sekolah gw sebagai satu-satunya siswa yang pernah pup di kelas pas lagi ujian. Akhirnya gw memutuskan untuk cepat-cepat menyelesaikan ujian dan cabut ke toilet. Saat itu gw nggak berpikir untuk ijin ke toilet di tengah-tengah ujian, takutnya dilarang balik masuk ke kelas dan dituduh sebagai anggota geng nyontek di wc sekolah. Ancur deh ujian gw, dan mungkin gw akan mengutuk serta menyimpan dendam terhadap perut dan pantat gw seumur hidup. Dalam 20 menit, semua soal akhirnya bisa selesai dengan jawaban singkat dan minimalis. Next step... RUN FOR TOILET! Seminggu kemudian, hasil ujian dibagi, guru gw heran kenapa tumben hasil ujian gw nggak sebagus biasanya dan jawaban gw cuman seadanya. 59! nilai ujian sejarah gw saat itu. Not bad lah, mengingat bahwa ketika gw nggak kebelet pun, hasil ujian gw jarang banget diatas angka 70. Artinya apa? MULES-KEBELET akan mendorong otak kita untuk berpikir lebih cepat! bayangin, waktu pengerjaan ujian 120 menit, tp gw selesai hanya 30an menit dengan hasil yang tidak berbeda jauh jika gw ngerjain selama 120 menit.. atau bahkan 130 menit (injury time 10 menit ngumpulin contekan dari temen). See?

Rasa-mules-kebelet menurut gw bisa menambah stamina orang secara temporer, gw pernah membuktikan ini juga. Masih kelanjutan dari kejadian kebelet pas ujian, ternyata ketika gw berlari ke toilet, pintu toilet macet dan kekunci.. akhirnya gw memutuskan untuk pulang dan melepaskan hasrat di wc rumah. Saat itu jarak sekolah ke rumah nggak nyampe 1 km, dan gw biasanya berangkat bareng temen gw (baca: nebeng) tapi berhubung temen gw ini masih bergelut bergulat berkutat dengan lembar jawaban ujiannya, gw terpaksa harus berjalan kaki. Biasanya, jalan kaki dari sekolah ke rumah kurang lebih 20 menit, tapi saat itu, dengan posisi menahan mules kebelet, gak nyampe 10 menit gw udah nyampe rumah! mungkin gw punya bakat jadi atlet jalan cepat :) See, ternyata kebelet bisa memberikan energi ekstra... seharusnya pemain timnas atau atlet badminton kita menyadari ini.. jadi mereka bisa bertanding lebih dahsyat dengan memanfaatkan kebelet :) Eh tapi gw takutnya, setelah ini akan ada aturan "atlet dilarang kebelet sebelum bertanding" karena kebelet termasuk dalam kategori doping terlarang :) *ngawurtenan*

Yang perlu dilakukan adalah melatih reaksi kimia terkait pencernaan agar rasa mules kebelet bisa dimunculkan pada saat diperlukan. :) Pernah nonton film 300 kan? itu, pilem yang nyeritain nekatnya 300 prajurit leonidas melawan ribuan tentara musuhnya. Pertanyaan gw, apakah mereka nekat karena mereka benar-benar berani? ataukah mereka memiliki strategi perang yang tepat? menurut gw sih enggak. Mereka nekat berperang meskipun jumlah pasukan tidak sebanding dengan musuh hanya karena.. saat itu pasukan leonidas (semuanya) sedang mules-mules, dan mereka tidak ada pilihan lain selain memenangkan peperangan dan kemudian pup dengan damai. Versi gw, strategi leonidas dalam perang itu adalah dengan meracuni pasukannya sendiri. Makan malam sebelum perang, dia menyuruh koki pasukan meracuni makanan para pasukan agar besok paginya semua pasukan mules parah. Walhasil, pagi harinya pasukan berbaris menuju medan perang dengan gejolak di perut mereka. Saat itu leonidas berteriak menyemangati pasukannya "PRAJURITT!!!! EEK DALAM DAMAI ATAU MATI!!! SERANNGGG!!! Semoga tidak ada petinggi TNI membaca tulisan ini dan mengaplikasikannya.. bisa-bisa yang diserang bukan pasukan musuh, tapi toilet umum terdekat di sekitar medan perang :)

Ketika manusia bisa mengatur kapan mereka mules-kebelet, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti akan ada super hero yang akan berubah wujud ketika dia kebelet eek. Yah mirip-mirip Hulk gitu lah.. Entah ya apakah kemampuan superhero kebelet ini harus melibatkan sinar gamma atau tidak, tapi secara teknis ya nggak jauh beda dari hulk. Ketika hulk melihat kejahatan, dia akan marah dan berubah wujud jadi raksasa.. Nah, manusia superkebelet juga akan seperti itu. Ketika dia melihat kejahatan, dia akan mules-mules kebelet dan berubah wujud menjadi raksasa berwarna kuning.

Jadi, mules-kebelet itu bukan sekedar urusan pencernaan.. tapi juga semangat hidup! :)
eerr.. tapi jangan sampai anda kebelet dan mules2 ketika akan menembak gebetan! jangan deh ya!! bisa buyar semua konsentrasi..

Rabu, 22 Mei 2013

padi dan kapas.. riwayatmu kini

Ada yang mengatakan bahwa satu gambar dapat menceritakan jutaan kata. Lebay? nggak kok. pernyataan itu menurut gw benar adanya. Nah dari statement itulah akhirnya saat ini (atau ribuan tahun yang lalu) orang banyak menyimbolkan pesan-pesan tertentu dalam bentuk gambar. Bahkan, sebelum orang mengenal huruf, manusia gua di jaman dinosaurus main gundu pun menggunakan media gambar untuk menyampaikan pesannya. Sering kan kita lihat di tv tentang lukisan kuno yang ditemukan di dalam gua.. Hal yang sama juga mungkin akan ditemukan oleh anak cucu kita ribuan tahun yang akan datang ketika mereka melakukan penggalian di sebuah lubang bawah tanah dan menemukan gambar-gambar tertentu.

Silahkan buka buku ensiklopedi kalian (BUKU YA! bukan wikipedia!) dan cari tentang lukisan dinding gua, mungkin kalian akan menemukan gambar "hewan + tombak + api unggun + matahari".. dan kalian mungkin akan berpikir bahwa gambar itu menunjukkan bagaimana manusia jaman dahulu melakukan perburuan. Padahal mungkin maksud gambar mereka adalah "waktunya makan siang, anak-anak!!". Lalu kita coba bergeser ke ribuan tahun yang akan datang, yah mungkin di tahun 3013.. Mungkin saat itu akan ada sebuah eksplorasi yang menemukan lukisan dinding di sebuah tembok padat di bawah tanah dengan gambar "anak panah + logo pria/wanita + motor/mobil + keranjang beroda + gambar huruf P atau B kapital berukuran besar" mungkin di  masa depan, mereka akan mengira bahwa orang-orang yang hidup di 2013 mengumpulkan makanan menggunakan panah sambil membawa keranjang dengan menaiki kendaraan". Padahal realitanya, apa yang mereka gali di masa depan adalah "sebuah toilet di parkiran basement mall". agak berbeda sedikit ya interpretasinya.. 

Bergeser sedikit.. untuk membuktikan bahwa satu gambar mampu menjelaskan ribuan kata, coba sekarang kalian lihat logo resmi pemerintah daerah yang kalian tinggali. contohnya nih, DKI Jakarta. di logo tersebut ada gambar monas, padi dan kapas, tulisan "jaya raya" yang dibungkus gambar perisai dengan lis warna emas. Lalu bandingkan dengan logo pemerintah daerah jawa barat, terpampang jelas ada padi, kapas dan senjata kujang. Bergeser sedikit ke Kota Jambi, ada gambar bedil (atau meriam?) lalu bebek, kemudian ada gambar air (kalo nggak salah). Oh oke, kalau gw tulis semua gambar logo pemerintah daerah yang jumlahnya ada ratusan itu, sepertinya ini akan jadi postingan paling epic yang pernah gw tulis.. SKIP ya! Jadi, maksud gw adalah, dalam logo-logo yang monoton itu, si pembuat logo ingin menyampaikan pesan tertentu.. yah disini yang jelas terlihat adalah dalam logo itu si pembuat seolah memaksakan diri untuk menunjukkan kesan bahwa daerahnya merupakan daerah yang makmur sejahtera, alim dan memiliki ciri khas tertentu.. Kalau ngomong ciri khas daerah, kenapa logo pemerintah daerah tidak ada yang mencantumkan gambar makanan khas disana ya? contohnya nih, pemerintah bangkalan memajang gambar sate ayam di logo resminya. Lalu pemerintah provinsi sumatera barat memasang gambar rendang dibawah gambar rumah gadang, kan seru tuh.. itung-itung promosi kan! Oke, bener sih ada unsur pesan melalui simbol-simbol tersebut.. Pertanyaan gw, apa ya simbol-simbol itu masih relevan dengan keadaan sekarang?

Gw akan mengajak kalian semua melakukan survey kecil-kecilan, tolong sebutkan logo pemerintah daerah mana saja yang memajang lambang padi dan kapas?! BANYAK! HAMPIR SEMUA! Kita semua tahu bahwa lambang padi dan kapas melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat di daerah tersebut. Mungkin logo padi dan kapas masih akan relevan digunakan di tahun 1945 sampai 1970an ketika orang masih banyak yang kesusahan makan nasi maupun memiliki pakaian yang layak. Sekarang? Mungkin lebih tepat logo padi dan kapas diganti dengan err mungkin lambang apel bolong kegigit hama? atau lambang kuda lumping merah hitam? atau mungkin diganti lambang huruf L dan V miring? hehehe.. 

Logo padi dan kapas sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan sepertinya menurut gw (sekali lagi, menurut gw loh ya) seperti upaya pemaksaan penyeragaman definisi kesejahteraan hidup. Noh di gorontalo, ketika jagung menjadi salah satu makanan pokok ciri khas disana, apakah mereka juga harus dipaksa memakan beras hanya untuk dianggap sejahtera? lalu bergeser lagi ke timur, ketika sagu dan umbi-umbian menjadi favorit masyarakat asli di Papua.. apa ya mereka disebut tidak sejahtera? Lalu apakah mereka akan dihakimi sebagai tidak sejahtera karena mereka tidak menggunakan kain kapas sebagai busana sehari-harinya? Katanya menunjukkan ciri khas daerah.. tapi kok ya nanggung..

Entah, apakah masyarakat prasejahtera tidak sakit hati ketika mereka dipaksakan seolah-olah menjadi sejahtera dengan lambang padi dan kapas tersebut? Ketika mereka sudah bisa makan nasi.. meskipun masih dua hari sekali, ataukah ketika mereka sudah menggunakan pakaian kain tapi bolong disana sini.. 

Sabtu, 18 Mei 2013

Pertanyaan tanpa tanda tanya

Sejatinya, sebuah pertanyaan muncul atas sebuah kondisi yang benar-benar nyata adanya. Itulah mengapa pertanyaan mengenai perasaan tidak pernah muncul dalam soal ujian nasional sejak jaman kuda gigit besi sampai sekarang. Menjawab pertanyaan yang tidak didasari logika adalah sesuatu yang sulit, karena selalu ada persepsi dan konsekuensi dibalik sebuah jawaban. Ketika konsekuensi tidak didasarkan pada logika, usaha untuk menjawab pertanyaan itu hanya akan nampak seolah upaya untuk mencari aman atau justru upaya bunuh diri.

Ketika sebuah pertanyaan dilontarkan tanpa dasar rasio dan logika, gw lebih memilih untuk menjawabnya. meskipun diberikan waktu seminggu, dua minggu, dua bulan, dua tahun, gw tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan seperti itu. Bukan karena gw tidak mau memikirkan jawabannya tetapi gw tidak mau membohongi siapapun dengan jawaban yang mungkin akan gw keluarkan. Lebih sialnya, ketika gw menyatakan tidak ingin menjawab pertanyaan seperti itu, saat itu juga gw dituduh tidak memiliki keseriusan untuk memberikan jawaban, Jahat? gw tidak bisa menjawab, kemudian gw dihakimi atas ketidakmampuan gw. Soal-soal UN mungkin tidak sejahat ini.

Gw tidak berhak merasa dipojokkan karena bagaimanapun pertanyaan-pertanyaan itu muncul juga karena sikap yang gw tunjukkan sebelumnya. Ok, mungkin gw salah sehingga mengakibatkan pertanyaan tersebut muncul, tetapi, hal ini juga tidak dapat membenarkan si penanya untuk mencecar seolah-olah bahwa hanya gw yang harus menjawab pertanyaan ini. Bisa saja gw menanyakan balik hal yang sama, tapi mengingat bahwa hal ini akan memperburuk keadaan, gw lebih memilih untuk diam.

Apapun jawaban yang gw berikan, semuanya bukanlah jawaban yang benar. Ketika gw menjawab "IYA", suatu saat gw harus mempertanggungjawabkan kata itu di suatu saat nanti, yang secara tidak langsung gw telah memberikan harapan kosong yang belum tentu bisa gw penuhi, sekali lagi karena gw bukanlah TUHAN yang bisa mengatur semua hal sesuai dengan keinginan gw. Jika gw menjawab "TIDAK" pun pertanyaan itu tidak akan berhenti disitu. Cacian mungkin akan masuk ke telinga gw seiring dengan kekecewaan yang muncul. Padahal untuk menjawab "tidak" pun bukanlah keinginan gw sebenarnya. Serba salah? IYA. Diam? butuh kedewasaan untuk memahami pernyataan diam dalam menghadapi pertanyaan ini. Kedewasaan yang membutuhkan logika tepatnya. Logika, yang tampak tiba-tiba menghilang ketika emosi dan kalutnya perasaan menguasai pikiran.

Boleh ya gw minta sedikit kedewasaan dan kesabaran disini? Gw tidak akan menjawab dengan kata-kata, silahkan anda simpulkan sendiri.

Reflecting modernity through a convex glass in a church

Last Sunday morning, while attending weekly mass at kodaira's local catholic church, i noticed something strange. I have been here for s...