Apakah anda menyadari bahwa menjadi dewasa memiliki keanehannya tersendiri. Kita tumbuh, belajar memahami dunia, membangun karier, memenuhi tanggung jawab, dan mengejar berbagai tujuan yang kita anggap penting. Perlahan-lahan, kita menjadi lebih rasional, lebih terampil, dan lebih mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan kehidupan. Dunia dewasa kita terasa lebih sempit dari sebelumnya, waktu yang kita miliki jadi terasa sangat pendek. Apakah anda pernah menyadari, di tengah semua proses pendewasaan itu, kita mungkin kehilangan sesuatu yang dahulu terasa begitu alami yaitu kemampuan untuk membayangkan, mempertanyakan, dan menemukan makna di balik hal-hal yang tampak sederhana.
Pertanyaan inilah yang muncul dalam benak saya ketika membaca Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupéry. Pada awalnya, novel ini mungkin tampak seperti dongeng sederhana tentang seorang pangeran kecil yang mengunjungi berbagai planet dan bertemu dengan beragam karakter. Namun, semakin saya merenungkannya, semakin saya merasa bahwa cerita ini sesungguhnya berbicara tentang manusia dewasa yang berusaha memahami kembali dirinya sendiri. Menariknya, pertemuan saya dengan buku ini memiliki kisah yang cukup panjang. Lebih dari lima belas tahun lalu, seorang teman semasa kuliah (hai Cera, how are you?) pernah merekomendasikan Le Petit Prince kepada saya. Namun, saat itu saya justru bertanya-tanya, apa menariknya membaca dongeng anak-anak? Rekomendasi itu pun berlalu begitu saja hingga pada awal 2026, seorang teman dari komunitas bercerita bahwa buku ini meninggalkan kesan yang mendalam baginya. Ia bahkan berkomentar, "Bukunya tipis, tapi bikin anxiety parah." Entah mengapa, kalimat itu justru membuat saya penasaran.
Saya memiliki prinsip sederhana: jika lebih dari satu orang yang saya kenal merekomendasikan sesuatu, pasti ada nilai tertentu di dalamnya yang layak untuk dicari tahu. Beberapa waktu kemudian, ketika sedang berada di Yogyakarta, saya menemukan buku ini di rak buku diskonan. Rasanya seperti semesta akhirnya menemukan cara untuk mempertemukan kami, dengan cara yang cukup unik dan, tentu saja, tanpa harus membuat rekening saya menjerit. Ternyata, butuh lebih dari lima belas tahun sejak rekomendasi pertama itu hingga saya benar-benar membuka sampul buku ini. Barangkali memang ada buku yang tidak harus kita baca ketika pertama kali menemukannya. Ada kalanya kita perlu menjalani hidup terlebih dahulu, mengumpulkan pengalaman, dan melewati sejumlah hal sebelum akhirnya siap memahami apa yang hendak disampaikannya. Saya tidak tahu apakah lima belas tahun itu benar-benar diperlukan. Namun, ketika akhirnya membaca Le Petit Prince, saya mulai berpikir bahwa mungkin buku ini datang pada saat yang lebih tepat: ketika saya cukup dewasa untuk mengenali pertanyaan-pertanyaan yang dahulu mungkin tidak akan terpikirkan oleh saya.
Bagi saya, tokoh yang paling menarik justru bukan sang pangeran kecil, melainkan pilot yang menjadi narator cerita. Ia adalah manusia dewasa yang pernah memiliki imajinasi, tetapi perlahan belajar meninggalkannya ketika menjadi dewasa. Saya membaca bahwa pengalamannya di gurun pasir ketika ia bertemu dengan sang pangeran kecil merupakan sebuah perjalanan reflektif dengan bagian dirinya yang pernah ada.
Salah satu bagian yang paling membekas bagi saya adalah pengalaman masa kecil sang pilot ketika ia menggambar seekor ular boa yang menelan gajah. Orang-orang dewasa justru melihat gambar itu sebagai sebuah topi. Mereka tidak tertarik pada imajinasi yang melatarbelakangi gambar tersebut dan menyarankan agar ia berhenti menggambar sesuatu yang dianggap tidak berguna. Peristiwa sederhana ini memperlihatkan bagaimana manusia mulai kehilangan sesuatu dalam proses pendewasaannya. Kita belajar melihat dunia berdasarkan kategori yang telah tersedia, mengutamakan hal-hal yang dapat dijelaskan secara rasional, dan mengukur sesuatu berdasarkan manfaatnya. Kemampuan tersebut tentu diperlukan untuk menjalani kehidupan. Namun, masalah muncul ketika cara pandang itu menjadi satu-satunya cara kita memahami kenyataan.
Kita mulai menilai seseorang berdasarkan jabatan, pendidikan, atau pencapaiannya. Kita memahami keberhasilan melalui angka dan pengakuan. Kita bahkan terkadang menilai diri sendiri berdasarkan ukuran yang ditetapkan oleh lingkungan sekitar. Tanpa disadari, kita menjadi semakin terampil dalam mengenali apa yang dianggap penting oleh dunia, tetapi semakin jarang bertanya mengapa hal-hal tersebut penting bagi kita. Saya tidak melihatnya sebagai persoalan bahwa manusia dewasa kehilangan kemampuan berpikir atau menjadi kurang cerdas. Justru sebaliknya, kita mungkin semakin terampil dalam memahami dunia melalui kerangka yang telah kita pelajari. Akan tetapi, kerangka tersebut dapat membatasi kemungkinan yang mampu kita lihat. Kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa kita telah memahami sesuatu, sehingga tidak lagi merasa perlu untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Dalam konteks ini, saya membaca Le Petit Prince sebagai pengingat bahwa kedewasaan tidak seharusnya membuat kita kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita anggap wajar. Menjadi dewasa semestinya memperluas pemahaman kita tentang kehidupan, bukan justru mempersempitnya menjadi sekumpulan ukuran yang harus dipenuhi.
Pertemuan ini menjadi titik awal yang menarik. Sang pilot, yang dahulu pernah menggambar dengan imajinasi yang tidak dipahami orang dewasa, kembali berhadapan dengan sosok yang mampu memasuki dunia imajinasinya. Melalui sang pangeran kecil, ia seolah-olah memperoleh kesempatan untuk berdialog kembali dengan bagian dirinya yang pernah ia tinggalkan. Disinilah saya melihat sang pangeran kecil sebagai cermin yang memungkinkan pilot mengenali kembali nilai-nilai yang selama ini tersisih dari kehidupannya.
Sang pangeran menghadirkan kepekaan terhadap hal-hal yang sering diabaikan orang dewasa. Ia mempertanyakan tujuan orang-orang yang ditemuinya, menunjukkan keterbatasan cara mereka memahami kehidupan, dan berusaha mencari makna di balik sesuatu yang bagi orang lain mungkin tampak biasa. Melalui dialog diantara mereka, pilot seolah berhadapan kembali dengan pertanyaan-pertanyaan yang dahulu pernah muncul dalam dirinya, tetapi kemudian tenggelam di tengah proses pendewasaannya.
Bagi saya, inilah salah satu gagasan paling menarik dalam novel tersebut: terkadang, untuk memahami diri sendiri, kita membutuhkan sesuatu yang membuat kita melihat diri dari luar. Kita memerlukan perjumpaan yang mengguncang kebiasaan berpikir kita karena kehadirannya memungkinkan kita menyadari sesuatu yang sebenarnya telah lama kita abaikan.
Kritik terhadap orang dewasa dalam novel ini tidak berhenti pada persoalan imajinasi. Saya juga melihat kritik terhadap cara manusia menentukan apa yang dianggap penting dalam kehidupannya. Tokoh-tokoh yang ditemui sang pangeran kecil memiliki orientasi masing-masing. Ada yang ingin memerintah, ada yang ingin dikagumi, ada yang sibuk menghitung bintang, dan ada pula yang menjalankan tugasnya secara berulang-ulang. Mereka tidak selalu melakukan sesuatu yang sepenuhnya tidak masuk akal. Sebagian memiliki tujuan yang dapat dipahami jika dilihat dari sudut pandang mereka sendiri.
Namun, ada sesuatu yang hilang ketika tujuan tersebut menjadi begitu dominan sehingga tidak lagi dipertanyakan. Manusia dapat menghabiskan seluruh waktunya untuk mencapai sesuatu tanpa pernah berhenti memikirkan mengapa hal tersebut layak dikejar. Kita dapat bekerja keras, membangun karier, mengumpulkan kekayaan, memperoleh pengakuan, dan memenuhi berbagai harapan sosial. Semua itu mungkin memiliki nilai. Akan tetapi, nilai tersebut tidak otomatis menjadikan seluruh kehidupan kita bermakna.
Bagi saya, novel ini mengingatkan bahwa kemampuan mencapai tujuan tidak selalu berjalan beriringan dengan kemampuan memahami tujuan itu sendiri. Ada perbedaan antara mengetahui apa yang ingin kita capai dan memahami mengapa pencapaian tersebut penting bagi kehidupan kita. Ada pula perbedaan antara menjalani rutinitas dengan baik dan menyadari arti rutinitas tersebut dalam keseluruhan perjalanan hidup kita. Pertanyaan yang kemudian muncul bukanlah apakah kita harus berhenti bekerja, mengejar prestasi, atau memiliki ambisi. Saya justru melihat bahwa semua itu tetap dapat menjadi bagian yang wajar dari kehidupan orang dewasa. Persoalannya adalah apakah kita masih memiliki ruang untuk mempertanyakan orientasi hidup yang sedang kita jalani.
Refleksi mengenai makna kehidupan menjadi semakin mendalam ketika sang pangeran kecil berhadapan dengan bunga mawarnya dan kemudian bertemu dengan rubah. Pada awalnya, sang pangeran menganggap mawarnya istimewa. Namun, setelah menemukan kebun yang dipenuhi bunga mawar lain, ia menyadari bahwa bunga miliknya tidak unik dalam penampilan. Ada banyak bunga yang tampak serupa. Pertemuan dengan rubah kemudian membantunya memahami bahwa sesuatu dapat menjadi istimewa bukan hanya karena sifat yang melekat padanya, melainkan juga karena hubungan yang telah dibangun dengannya.
Saya membaca bagian ini sebagai pengingat bahwa makna tidak selalu ditemukan melalui pencarian terhadap sesuatu yang luar biasa. Makna juga tumbuh dari perhatian yang kita berikan kepada sesuatu yang telah hadir dalam kehidupan kita. Kita sering membayangkan bahwa kehidupan yang bermakna harus ditandai oleh pengalaman besar, pencapaian istimewa, atau peristiwa yang mengubah segalanya. Padahal, bisa jadi makna justru tumbuh melalui hal-hal yang sederhana: waktu yang kita berikan kepada orang lain, perhatian terhadap sesuatu yang kita rawat, dan kesediaan untuk bertanggung jawab atas hubungan yang kita bangun.
Mawar sang pangeran menjadi istimewa karena ia bukan sekadar salah satu bunga di antara ribuan bunga lainnya. Ia adalah bunga yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup sang pangeran. Dalam kehidupan sehari-hari, saya melihat bahwa kita pun sering baru menyadari nilai sesuatu setelah mengambil jarak darinya. Kita mungkin terlalu terbiasa dengan orang-orang terdekat, pekerjaan yang kita jalani, atau rutinitas yang membentuk kehidupan kita. Baru ketika jarak, kehilangan, atau perubahan terjadi, kita mulai melihat kembali arti kehadiran mereka.
Satu hal yang penting bagi saya adalah bahwa Le Petit Prince tidak harus dibaca sebagai ajakan untuk menolak kedewasaan dan kembali menjadi anak-anak. Saya tidak membayangkan bahwa pilot harus meninggalkan kehidupannya, menolak rasionalitas, atau mengubah seluruh orientasi hidupnya agar sesuai dengan dunia sang pangeran kecil. Bagaimanapun, ia tetap harus kembali dari gurun pasir dan melanjutkan kehidupannya sebagai manusia dewasa. Kedewasaan tidak harus menjadi keadaan yang membuat kita kehilangan seluruh nilai masa kanak-kanak. Kita dapat menjadi lebih rasional tanpa kehilangan imajinasi, menjadi lebih bertanggung jawab tanpa kehilangan kepekaan, dan memiliki tujuan hidup tanpa berhenti mempertanyakan arti tujuan tersebut. Menemukan kembali diri sendiri bukan berarti kembali menjadi orang yang sama seperti dahulu. Pengalaman telah mengubah kita, dan kita tidak mungkin sepenuhnya kembali ke masa ketika kita belum mengenal kerumitan kehidupan.
Bagi saya, bagian akhir Le Petit Prince merupakan salah satu bagian paling indah dalam novel ini justru karena tidak memberikan kesimpulan yang sepenuhnya jelas tentang kehidupan pilot selanjutnya. Setelah perpisahannya dengan sang pangeran kecil, pilot kembali ke dunia manusia. Namun, pembaca tidak diberi penjelasan terperinci mengenai bagaimana ia menjalani kehidupan setelah pengalaman tersebut. Kita tidak mengetahui secara pasti apakah ia mengubah kebiasaannya, mengambil keputusan yang berbeda, atau berhasil mempertahankan seluruh pemahaman yang diperolehnya selama berada di gurun. Ia mungkin kembali bekerja dan menjalani rutinitas seperti sebelumnya. Ia mungkin masih mengalami hari-hari yang melelahkan, melakukan kesalahan, atau sesekali melupakan hal-hal yang pernah dipahaminya. Namun, semua itu tidak harus berarti bahwa perjumpaannya dengan sang pangeran kecil menjadi sia-sia.
Pada akhirnya, saya membaca Le Petit Prince sebagai kisah tentang perjumpaan kembali dengan diri sendiri. Bukan perjumpaan yang membawa seseorang kembali ke masa lalu, melainkan perjumpaan yang memberinya kesempatan untuk memahami masa lalu dan kehidupannya sekarang dengan cara yang berbeda. Pilot tidak harus tinggal bersama sang pangeran kecil. Ia harus kembali ke kehidupannya sebagai orang dewasa. Namun, setelah perjumpaan tersebut, dunia yang sama mungkin tidak lagi sepenuhnya sama baginya. Bintang-bintang dapat menyimpan kenangan. Gurun pasir dapat menjadi tempat perjumpaan yang mengubah cara seseorang memandang kehidupan. Dan bunga mawar dapat mengingatkan bahwa sesuatu menjadi berarti bukan hanya karena apa yang dimilikinya, tetapi juga karena hubungan yang telah kita bangun dengannya.
Barangkali, menemukan kembali diri sendiri bukanlah tentang menemukan jawaban pasti mengenai siapa kita atau bagaimana kita harus hidup. Barangkali, ini adalah proses untuk kembali mengenali pertanyaan-pertanyaan yang dahulu pernah kita ajukan, tetapi perlahan berhenti kita pikirkan ketika kita mulai sibuk menjadi dewasa. Ketika kita kembali menjalani kehidupan setelah menemukan pertanyaan-pertanyaan itu, kita tidak harus menjadi manusia yang sepenuhnya berbeda. Kita hanya perlu memberikan ruang bagi kemungkinan bahwa kehidupan memiliki makna yang lebih luas daripada apa yang selama ini kita kejar.