Belakangan ini, saya sering bertanya-tanya, mengapa persoalan bangsa ini seolah tidak pernah selesai? Masalah datang silih berganti, politik terasa semakin melelahkan, dan harapan akan keadaan yang lebih baik terkadang terasa begitu jauh. Saya kemudian menemukan buku Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis.
Dalam buku ini, Mochtar Lubis menguraikan sejumlah karakter manusia Indonesia, mulai dari kemunafikan, keengganan bertanggung jawab, sikap feodal, hingga lemahnya kepribadian. Dalam pidatonya yang kemudian dibukukan dengan judul Manusia Indonesia, Mochtar Lubis mengemukakan sejumlah ciri yang menurut pengamatannya melekat pada manusia Indonesia. Ia menyebut kemunafikan, keengganan bertanggung jawab, jiwa feodal, kepercayaan pada takhayul, kecenderungan berwatak artistik, serta lemahnya karakter atau kepribadian. Gambaran ini tentu lahir dari konteks sosial dan sejarah tertentu, sehingga tidak harus diterima sebagai gambaran mutlak tentang setiap orang Indonesia. Namun, di balik kritiknya, saya menangkap kegelisahan tentang kecenderungan kita untuk menampilkan sesuatu yang berbeda dari kenyataan, menghindari tanggung jawab ketika keadaan menjadi sulit, menghormati kekuasaan secara berlebihan, atau lebih mudah berharap pada hal-hal di luar kendali daripada mengambil tindakan nyata. Bahkan, ketika berbicara tentang sifat artistik, persoalannya bukan terletak pada seni itu sendiri, melainkan pada kemungkinan bahwa kepekaan dan kreativitas tidak selalu diiringi ketekunan untuk mewujudkan sesuatu.
Membaca uraian Mochtar Lubis, saya tidak tahu sejauh mana gambaran tersebut dapat mewakili manusia Indonesia secara keseluruhan. Namun, alih-alih sibuk mempertanyakan apakah kritiknya masih relevan bagi bangsa ini, saya justru menemukan pertanyaan yang lebih dekat: jangan-jangan, sebagian dari sifat-sifat itu juga ada dalam diri saya sendiri. Ketika mengamati kehidupan sehari-hari, saya melihat berbagai perilaku yang membuat kritik Mochtar Lubis terasa layak direnungkan kembali. Ada orang yang melawan arus lalu lintas demi mempersingkat perjalanan, mengabaikan perlengkapan keselamatan, menerobos antrean, membuang sampah sembarangan, atau bahkan menganggap suap sebagai jalan keluar yang wajar. Tentu, perilaku tersebut tidak mewakili seluruh masyarakat Indonesia. Namun, ada satu kecenderungan yang mengusik saya: keinginan untuk memperoleh kemudahan bagi diri sendiri, sekalipun harus mengorbankan kepentingan orang lain atau mengabaikan aturan bersama. Dalam hal-hal yang tampak sederhana sekalipun, kita terkadang lebih sibuk mencari jalan agar kepentingan pribadi terpenuhi daripada mempertimbangkan tanggung jawab kita sebagai bagian dari kehidupan bersama. Dan ketika menyadari hal itu, saya tidak bisa begitu saja menempatkan diri di luar persoalan. Saya pun perlu bertanya, sudahkah saya benar-benar terbebas dari kecenderungan yang sama?
Barangkali, di sinilah refleksi ini seharusnya dimulai. Bukan dengan menunjuk siapa yang salah, melainkan dengan berani melihat diri sendiri. Saya teringat pada kecenderungan kita (SAYAAA) untuk bermain aman. Dalam tataran makro, kita (iya, SAYAAA) menginginkan keadaan yang lebih baik, tetapi sering kali enggan mengambil risiko untuk memulainya. Kita ( utamanya SAYAAA) berharap ada pemimpin yang mampu membawa perubahan, seseorang yang akan membereskan segala persoalan. Dalam tradisi Jawa, harapan semacam ini dapat dikaitkan dengan sosok satria piningit. Tanpa disadari, mungkin kita terlalu sibuk menunggu seseorang datang untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya juga menjadi tanggung jawab kita (masih SAYAAA juga).
Di tengah kegelisahan itu, saya teringat sebuah falsafah Jawa: sangkan paraning dumadi. Secara sederhana, ungkapan ini berbicara tentang asal-usul dan tujuan keberadaan manusia yaitu dari mana kita berasal dan ke mana kita menuju. Bagi saya, falsafah ini juga mengandung undangan untuk berhenti sejenak, menengok kembali diri sendiri, dan mempertanyakan arah perjalanan kita (SAYAAA). Mungkin kita (SAYAAA) terlalu sering memulai pembicaraan tentang perbaikan bangsa dari perspektif luar diri. Siapa pemimpinnya, bagaimana sistemnya, atau kebijakan apa yang perlu diubah. Semua itu penting. Namun, jika kita menginginkan kehidupan bersama yang lebih baik, bukankah kita juga perlu bertanya tentang manusia seperti apa yang ikut membentuk kehidupan itu?
Namun, saya juga teringat bahwa orang Indonesia tidak selalu menunjukkan perilaku yang sama dalam setiap keadaan. Ketika berada di luar negeri, kita bisa menjadi pribadi yang tertib, taat pada hukum, menghormati hak orang lain, dan menjaga martabat diri. Hal ini membuat saya berpikir jangan-jangan, kita sebenarnya mampu menjadi manusia yang lebih baik daripada yang selama ini kita tunjukkan. Jika demikian, persoalannya bukan sekadar apakah kita bisa berubah, melainkan apakah kita sungguh-sungguh bersedia membawa perubahan itu ke dalam kehidupan kita sendiri, termasuk ketika tidak ada orang lain yang mengawasi.
Barangkali, kita (SAYAAA) memang bagian dari masalah yang selama ini kita keluhkan. Bukan berarti kita harus memikul seluruh kesalahan atas keadaan bangsa ini. Ada sistem yang perlu diperbaiki, kekuasaan yang perlu diawasi, dan ketidakadilan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengubah perilaku individu. Namun, mungkin kita juga perlu menerima satu kemungkinan yang tidak selalu nyaman: jangan-jangan, dalam kadar tertentu, kita ikut menjadi sumber masalah. Dan justru karena itu, kita pun bisa menjadi bagian dari perbaikannya. Lalu, dari mana kita harus memulai?
Mungkin dari hal-hal sederhana: berani mengakui kesalahan, tidak menggunakan standar ganda untuk diri sendiri dan orang lain, tidak selalu mencari pembenaran, serta bersedia mempertahankan prinsip ketika ada keuntungan yang harus dikorbankan. Hal-hal ini terdengar sederhana, tetapi saya membayangkan betapa sulitnya menjalankannya secara konsisten. Saya tidak sedang berpikir bahwa dengan memperbaiki diri, kita dapat menyelesaikan seluruh persoalan Indonesia. Rasanya terlalu naif jika demikian. Namun, bukankah akan menjadi ironi jika kita terus mengeluhkan karakter para pemimpin dan keadaan bangsa, sementara kita tidak pernah sungguh-sungguh memeriksa karakter kita sendiri?
Barangkali, sangkan paraning dumadi dapat kita jadikan pengingat bahwa perjalanan menuju keadaan yang lebih baik tidak selalu dimulai dengan mencari sesuatu yang jauh di luar diri. Ada kalanya kita perlu kembali menengok ke dalam, mengenali siapa diri kita, dan mempertanyakan apakah cara kita menjalani hidup sudah sejalan dengan nilai-nilai yang kita harapkan dari orang lain.
Saya belum memiliki jawaban tentang bagaimana mengubah karakter manusia Indonesia. Namun, saya mulai berpikir bahwa perbaikan bangsa tidak cukup hanya dengan menunggu hadirnya pemimpin yang tepat atau lahirnya sistem yang lebih baik. Kita juga perlu menjadi manusia yang mampu merawat perubahan itu. Sebab, jika kita berharap menuju kehidupan bersama yang lebih baik, mungkin kita perlu terlebih dahulu bertanya: manusia seperti apakah yang harus kita upayakan untuk menjadi? Barangkali, perjalanan menuju bangsa yang lebih baik memang perlu dimulai dari sana, yaitu dengan kembali melihat diri sendiri agar kita dapat mengambil bagian dalam perubahan yang lebih besar.